26 Desember 2014

Maba Wanna Be

Sudah bulan Desember 2014, akhir Desember tepatnya. Kurang dari seminggu lagi 2015 memaksa masuk ke kehidupanku. Dengan 365 lembar halaman dalam 12 chapter lagi yang akan diisi entah dengan cerita bahagia, sedih, kecewa, atau apapun yang akan terjadi nanti. Dan 2015 akan dan harus menjadi tahun besar bagiku, tahun depan aku lulus SMA. Ya, masa SMA yang hampir sealu aku benci, yang aku harap agar segera berakhir kini akan benar-benar berakhir. Tapi entah mengapa aku tak sebahagia yang aku bayangkan. Aku akan kuliah, dan entah apa yang akan terjadi nanti.

Dan nanti aku harus dan akan pergi entah ke mana, entah di kota apa. Bersemayam hingga lulus skripsi lalu wisuda. Sedih karena meninggalkan semua yang aku punya disini, tapi lalu mengingat janji Tuhan bahwa Ia akan memberikan hal yang lebih baik pasti. Dan lalu tak punya cukup banyak waktu untuk sedih, dan lalu lupa.

Aku sedang di Semarang, dan dengan disengaja dan direncanakan, aku mampir ke Universitas Diponegoro, mampir ke FH Undip. Salah satu tempat yang mungkin nanti akan aku datangi setiap hari. Tapi kenapa Undip? Karena entah kenapa, aku punya ketertarikan tak beralasan untuk masuk Fakultas Hukum. Dan Undip, Unpad, Unbraw, UGM, adalah beberapa universitas dengan Fakultas Hukum terbaik di Indonesia, di samping UI. Dan UI, yang adalah mimpi semua orang, bukan mimpiku. Dan kelihatannya Semarang tidak semenarik itu, tapi tidak lebih tidak menarik daripada Depok. Ini hanya kunjungan awal, aku bahkan belum berkunjung ke Bandung atau Malang, atau yang lainnya.

Dan lalu seperti biasa, aku terlalu banyak menghawatirkan banyak hal hal kecil yang malah menjadi masalah untukku saat ini. Misalnya, baju apa yang harus aku kenakan nanti saat kuliah? Kenapa orang-orang kuliah menggunakan blouse, bukan t-shirt? Jadi, pakaian menentukan pada lingkungan seperti apa kita bergaul? Jadi, apa nanti aku akan dapat teman dengan mudah, atau tidak sama sekali? Jadi, haruskah aku nanti berpura-pura menjadi orang lain agar bisa berteman? Jadi, di lingkungan seperti apa nanti aku akan bergaul? Jadi, akan pergi kemana nanti aku untuk hang out? Sepele, tapi....

Dan hidup akan berjalan, tetap. Mau atau tidak mau. Dan seperti biasa, aku tahu benar aku akan menangisi banyak hal. Tapi, siapa bilang perubahan untuk hal yang lebih baik itu mudah. Iya kan?

16 Desember 2014

Sayangku, Tak Rindu kah?

Sayangku, pagi ini indah ya. Aku duduk di sebuah lembah indah yang sunyi yang jauh dari manapun, duduk di batu besar di tepi sungai dekat dengan deburan air yang dibelah batu. Aku merasakan dinginnya air menyapu kakiku.  Aku memandangi awan paling putih  yang ada pada langit paling biru. Aku menikmati setiap tarikan nafasku, merasakan setiap molekul molekul oksigen yang masuk tanpa tercemar apapun. Titik-titik embun masih menggantung pada ilalang-ilalang di tepi sungai. Laba-laba berdiam di sarangnya menunggu mangsa. Burung-burung yang baru bangun dari tidur mereka terbang berputar-putat. Hijau sepanjang mata memandang sayang, disini tak ada suara motor, tak ada bising, tak  ada debu dan asap, namun juga tak ada kamu.
 
Sayangku, aku duduk di tempat yang selalu aku rindukan, yang hadir dalam anganku saat aku berdiri, duduk, tidur di tempat yang jauh dari sini. Suara setenang ini, udara sedingin ini, air sejernih ini, langit secerah ini, alam sehijau ini, hidup sedamai ini sayang yang aku selalu dambakan. Namun ada yang kurang dalam harmoni ini sayangku. Kamu. Entah sejak kapan kekurangan akan hadirmu membuat kekosongan yang tak bisa terisi setiap kali aku mencoba menikmati harmoni ini. Kekosongan yang hanya bisa diisi oleh kamu disini, disisiku.
 
Sayangku, aku tahu kamu juga mencintai suasana seperti ini. Jujurlah padaku, kamu juga pasti merindukannya saat kamu berdiri, duduk, tidur di tempat yang jauh dari sini. Setiap ceritamu menyiratkan rindumu menjajaki gunung, lembah, sungai, tebing, rawa, dan aku bisa membacanya sayangku. Jauh sebelum aku mengerti keindahan dalam kesunyian, kamu sudah biasa menenggelamkan dirimu didalamnya. Sayang, aku kini menenggelamkan diriku di dalam suasana yang kamu cintai dan kamu dambakan. Aku disini sayangku. Aku kini mulai bermain di alam yang jadi tempat bermainmu dulu. Dan aku duduk disini sayang, aku membuka diriku, aku mau menyatu lagi pada alam tempat kita semua dilahirkan.
 
Sayangku, kamu sudah menenggelamkan dirimu dalam suasana seperti ini jauh sebelum aku mulai bisa menemukan suasana seperti ini. Dan kamu berhenti tepat di saat aku mulai menapakinya. Sayang, aku ingin melihat banyak keindahan yang kamu pernah lihat. Sayang, aku ingin melihat surga-surga yang pernah kamu datangi. Tapi kini kamu sudah tidak lagi mendatangi surga-surga itu ya? Hidupmu kini terjebak di antara gedung-gedung tinggi Jakarta bersaing dengan karbon-karbon di udara yang menyesakkan? Tak bisakah kamu sejenak berhenti untuk kemudian datang kembali ke tempat-tempat yang selalu kamu rindukan? Mungkin kamu lupa betapa indahnya duduk ditempat seperti ini.
 
Sayangku, aku ingin kamu yang membawaku mendatangi sepercik surga yang tersembunyi dalam bumi Indonesia kita. Aku ingin kamu yang mengajakku mendaki lebih tinggi untuk mencapai puncak-puncak terindah yang tersembunyi di atas awan. Aku ingin kamu yang berjalan bersamaku menapaki jalan-jalan berbatu menuju ke antah berantah yang menyembunyikan sejuta keindahan yang tak bisa tergambarkan. Aku ingin kamu yang memberitahuku bagaimana caranya menikmati memandang dari ketinggian dari atas tebing tebing batu yang terlihat angkuh dan tak mau disentuh. Aku ingin kamu yang bersamaku meninggalkan jejak-jejak langkah di jalan setapak yang kita lalui.
Sayangku, kamu yang mengenal dunia ini jauh lebih aku yang baru mulai melangkahkan kaki ke dalamnya. Sayang, kapan kamu ajak aku menikmati potongan surga yang tersembunyi dalam bumi Indonesia kita? Aku tunggu sayang, kembalinya kamu nanti pada dunia sedamai dan seindah ini.

13 Desember 2014

Sesederhana Berlari

Run, sound similiar to fun. I do run sometimes.

Lari. Adalah hal yang menyenangkan buat gue. Keringetan. Lengket. Tapi happy ! Saat lagi kesel dan pengen mukulin orang, lari kadang bisa jadi pelampiasan lain yang lebih sehat. Sebenernya bukan lari sih, gue ga bisa lari-akan dijelaskan kemudian-, jadi yang kadang gue lakukan adalah jogging. Kemampuan gue untuk berlari masih sangat standar, 30-45 menit saja. Sejam bisa. Namanya juga manusia ya, suka manjain diri sendiri padahal bisa lebih dari itu.

Gue bukan 'runner' kaya yang lagi ngetrend itu. Yang ikut 5k, 10k, apalah itu. Yang ikut color run, sound run, light run, and many more. Gue bukan lari karena itu trend, gue suka lari sejak smp kelas 2 yang gue inget, which is 4-5 tahun yang lalu dan saat itu lari bukan trend. Entah kenapa orang2 norak sama yang namanya lari. Lari mah lari aja kan ya. Jadi jangan samakan. Gue. Ga. Suka. Disamain. Lalu bagaimana cara gue berlari? Pulang sekolah lari aja muterin lapangan softball, beberapa putaran sih paling 10-20 putaran, standar.

Menurut pengamatan, pemikiran, dan perenungan gue, ada 2 tipe orang dalam berlari. Fine, mungkin tiga. Yang pertama, orang yang memotivasi dirinya dengan kata-kata, "Ayo, lima putaran lagi." Dan tipe kedua adalah orang yang memotivasi dirinya dengan kata-kata, "Ayo, udah lima putaran." Terdengar mirip? Tapi beda. Mirip sama perbedaan antara gelas setengah penuh atau setengah kosong. Dan gue pribadi, adalah tipe orang yang 'berapa putaran lagi'. Tipe yang ketiga adalah orang-orang dengan pikiran "Anjing dah. Ah gila jauh banget. Parag. Kapan selesainya ini. Capek. Dipikir kaga capek apa lari begini."

Kenapa lari? Karena sebenarnya lari mengajarkan tentang banyak hal, sama halnya dengan naik gunung. Bukan lari atau naik gunungnya, tapi pelajaran yang bisa diambil dibalik itu semua. Sama halnya seperti gunung-gunung yang tinggi telah mengajar kita tentang keindahan hidup di alam terbuka. Tebing-tebing yang curam telah mengajar kita, tentang keberanian dan keteguhan hati. Dan hutan rimba yang lebat telah mengajar kita, tentang kerendahan hati dan kepedulian. (Dikutip dari mars Wanadri). 

Lari adalah hal paling sederhana yang mengajarkan gue untuk always push my limits. Ga berhenti gitu aja kalo udah capek. Kadang, kalo lagi bener, gue punya motto "selama masih bisa berdiri artinya masih bisa lari." Klise, tapi bisa jadi spirit booster. Paling males kalo lagi ngelatih di pecinta alam sma gue, terus juniornya manja waktu disuruh lari. Dikit-dikit bilang capek, dikit-dikit jalan, dikit-dikit istirahat. Pengen gue jorokin ke semak belukar rasanya. Manja disaat yang tidak tepat. 

Lari juga lah yang mengajarkan gue buat ga nyerah sama keadaan. Gue suka lari, gue suka outdoor activity, dan gue asma. Asma kadang ngebuat gue harus berhenti karena udah ga bisa push my limits lebih jauh lagi karena kalo gue ngelakuin itu adanya jadi ga bisa napas beneran. Bukan jarang, bahkan hampir selalu, abis lari asmanya kambuh, dan itu menyakitkan. Saat belom terbiasa sama hal itu, rasanya panik. Ya gimana engga, udah tarik napas sedalem apapun, udaranya ga ada yang masuk. Sampe sekarang masih kadang panik sih, tapi sidah bisa lebih dikendalikan paniknya. Fulu gue ga bisa lari tanpa Ventholin. Menyedihkan. Penyakitan. Ada saat dimana gue marah dan menyalahkan keadaan. Lalu kemudian gue sadar, tuhan cuma mau gue berusaha lebih keras dari yang lain, lari lebih jauh dari yang lain, dan itu yang selalu gue lakuin agar gue bisa menyetarai kemampuan mereka. 

Lari juga lah yang nunjukkin beneran bahwa mendingan pelan tapi jauh daripada cepet tapi deket. Karena dengan begitu kita bisa mencapai titik yang lebih jauh. Kita bisa mencapai hal yang kita pernah pikir ga bakalan bisa kita sentuh.

Dan hidup itu sesederhana berlari. Kita ga bakalan pernah sampe ke tujuan kita kalo berhenti. Dan berhenti atau terus lari juga adalah pilihan. Have a great day ! 

1 Desember 2014

Abu-abu ?

Kita diciptakan olehNya sebagai manusia dan diberi akal, setiap individu diberi satu otak agar kita bias berpikir sendiri, menalar sendiri, mencoba mengerti sendiri, mengatati sendiri, menyimpulkan sendiri, dan memutuskan sendiri apa yang akan kita lakukan. Dia menginginkan kita untuk memiliki keyakinan.
 
Aku masih dalam masa bukan anak kecil dan belum benar-benar dewasa. Aku masih 17 tahun. Masih baru membuka mata di dunia yang dikatakan 'sebenarnya'. Dimana ada orang jahat yang baik dan ada orang baik yang jahat. Dimana benar dan salah menjadi relatif. Dimana ada abu-abu diantara hitam dan putih. Ya, mereka bilang agar bias tetap bertahan kita harus bias menjadi abu-abu, agar bias tetap berdiri baik di sisi hitam maupun di sisi putih. Tapi itu kata mereka.
 
Terlalu abu-abu. Kita takut untuk menjadi berbeda, kita takut untuk terlihat oleh yang lain. Doktrin yang menyelubungi seluruh manusia di seluruh lapisan masyarakat untuk menjadi tetap homogen di dalam lingkungan yang menjadi lebih heterogen. Mereka menghakimi kita saat kita menjadi terlalu berbeda. Mereka hanya membutuhkan orang-orang yang mau mengikuti apa yang mereka katakanan. Ada pengekangan yang tidak terlihat pada masa yang katanya era-modernisasi ini.
 
Mari ambil contoh dari hal yang ada di lingkunganku setiap hari, sekolah. Lembaga yang katanya, ditujukan sebagai lembaga pendidikan. Bukan hanya lembaga pengajaran formal, tapi lembaga pendidikan. Selain meliputi pendidikan formal, (harusnya) juga meliputi pendidikan rohani dan lainnya. Tapi itu katany. Jujur aku sebagai murid disini tidak merasa hal itu yang benar-benar mereka inginkan.
 
Persetan dengan berbagai omong kosong kata para petinggi dinas pendidikan, suku dinas, kepala sekolah. Entah siapa yang menjadi boneka dan siapa dalangnya, tapi terima kasih, aku tidak mau ada didalam drama dan permainan kalian. Katakanlah kebohongan kebohongan itu lagi, tentang apa yang kalian akui kalian 'ajarkan' kepada kami, dan bungkamlah lagi seperti biasa mulut kami agar kami tidak bias meneriakkan bahwa itu semua omong kosong.
 
Aku lelah dengan dramanya. Berhenti mencoba untuk membuatku turut serta bersama ratusan pelajar lain untuk menjadi boneka. Berhenti mencoba mengatur seluruh gerak kami. Kami muda, dan kami membutuhkan lebih banyak ruang gerak daripada kalian yang sudah waktunya untuk berhenti memainkan drama ini. Kalian bukanlah Tuhan, berhenti untuk meminta kami menuruti semua keinginan kalian. Kalian tak selalu benar, berhentilah menutup kuping dari teriakan-teriakan kami karena jika tidak, kalian akan segera masuk ke tempat sampah. Dan berhenti meminta kami untuk menghargai kalian, penghargaan bukan sesuatu yang dapat dengan mudah didapatkan, bahkan meskipun kalian adalah 'guru'.
 
Berhenti mengatakan ke masyarakat bahwa kalian menginginkan siswa, pemuda yang aktif dan kreatif. Persetan. Makan lagi saja omongan kalian. Kalian tidak pernah memberikan ruang bagi kami untuk berkarya. Bahkan untuk berkegiatan aktif di ekstrakulikuler saja kini sudah kalian larang. Lalu dimana kami bisa berkarya dan berprestasi? Dimana kami bisa mengembangkan dan menunjukkan apa yang kami miliki? Kami tidak pernah meminta kalian untuk membantu kami melangkah, kalian tidak perlu jika tidak mau, yang kami butuhkan hanyalah ruang bergerak dan berkarya.
 
Berhenti menjdikan kami robot karena kami bukan robot, dan kami bukan juga pesuruh kalian. Berhenti menghilangkan suara kami karena kami juga berhak berbicara. Lalu apa kalau kami ingin menyampaikan kritik? Kalian pernah bilang kalian menginginkan generasi muda yang kritis bukan, atau itu hanya satu lagi kebohongan publik? Dan lalu jika kami tetap ingin bersuara kalian menghukum kami dengan pembelaan kalian bahwa kami melawan guru? Kalian hanya mencari cara agar kalian tak tersentuh, karena kalian terlalu arogan, kuping kalian tuli seperti para petinggi negara yang lain. Iyakah?
 
Bapak dan ibu yang terhormat, jadi apa yang kalian inginkan? Apakah kalian ingin menjadi seorng pendidik atau pengajar? Jika sebatas pengajar, maka berhenti untuk ikut campur dalam kehidupan pribadi kami, berhenti untuk mengurusi tingkah laku kami karena tugas kalian hanyalah menyampaikan apa yang memang harus disampaikan berdasarkan pada matrix kurikulum, dan oleh karena itu kalian tidak berhak untuk mengurangi nilai kami jika kami berlaku buruk. Tapi jika ingin menjadi seorang pendidik, mari bantu kami, mari rangkul dan bimbing kami, jangan lepaskan kami begitu saja jika kami salah dan mengatakan bahwa itu semua adalah tanggung jawab kami lalu seenaknya melakukan drop-out dari sekolah.
 
Bapak, ibu, terima kasih telah menunjukkan kepada kami bagaimana dunia sebenarnya. Bahwa ada orang-orang tidak baik yang bersembunyi di balik status mereka. Ada orang-orang yang memanfaatkan kedudukannya untuk membungkan orang-orang lain yang lebih lemah. Bahwa untuk terlihat baik di mata publik, yang perlu dikatakan hanyalah kebohongan-kebohongan manis. Sekali lagi terima kasih.
 
 
 
Tanda tangan,
 
Siswa SMA tahun 2015
 

30 November 2014

Dari Halimun Hingga Hari Ini

30 Desember 2012, Halimun, lahirlah sebuah angkatan setelah 4 hari pendidikan dasar gunung hutan Sisgahana. Chandra Purnama. Bukan nama gank. Bukan nama orang.
 
Sudahlah pew, paragraph sesingkat itu bahkan membuat gue menangis. And that's why gue ga pernah nulis tentang kalian. Sumpah gue sayang ke kalian lebih daripada gue sayang Tias, dan gue sayang banget sama Tias. Kalian tau gue sayang kalian.
 
Ga lebih dari enam bulan lagi kita ketemu sesering ini. Ga bakalan hamper setiap hari ngedebatin atau ngetawain hal ga penting. Kita selalu keliatan ga penting, ga hebat, ga cantik, ga istimewa, tapi itu kata merka yang ga kenal kita. Kalian adalah wanita-wanita terhebat yang ada di hidup gue setelah nyokap gue.
 
Din, UI harga mati ya. Nanti kalo udah keterima di fakultas psikologi UI, ajak-ajak gue main lah ke kampus fakultasnya. Gue belom pernah masuk gedung-gedung yang ada di UI sana din. Gue penasaran gimana dalemnya, tempat orang-orang hebat kuliah, dan calon tempat kuliah lo Din. Din, apa kata Abo nanti ya kalo lo kuliah disana, Bang Jaki sama Bang Dika iri kali ya sama lo. Din, kalo nanti kuliah disana kalo pacaran sama anak UI juga jangan pacaran di danaunya ya, banyak nates. Anjaw yang pacarnya anak UI.
 
Sar, calon mahasiswa antropologi Unbraw 2015. Kurang keren darimana kedengerannya. Tapi gue selalu berpikir antropologi itu jurusannya orang keren. Kalo nanti udah kuliah di Malang, kuliah yang bener lah kurang-kurangin naik gunung. Jangan mentang-mentang deket Semeru, Arjuno, Welirang, kerjaannya daki mulu. Ajak-ajak CP lah, lo belom pernah kan menghangatkan gue semaleman di Semeru. Cepet lulus kuliah terus cepet ketemu nanti sama murid-murid lo yang kalo sekolah ga pake seragam tapi semangatnya lebih lebih dari anak sekolah paling bagus di Jakarta.
 
Del, teknologi pangan kan? UI atau Binus nih? Sama-sama bagus sih, tapi mendingan masuk UI Del, kan lo tau CP udah dari dulu niat numbalin lo buat masuk Mapala UI. Kita kan sering seret alat dan butuh banyak pinjeman del, kasian junior-junior Sisga nanti. CP tau dan percaya Del kalo lo akan keterima di UI lewat jalur undangan, jadi tolong percaya juga. Jangan lupa, gue udah booking lo buat jadi konsultan gizi gue. Jangan lupa cari caranya biar gue bisa makan banyak tapi ga gendut Del
 
Dan mereka adalah orang-orang terdekat gue yang berjalan bersama gue melewati masa-masa paling rawan kalo kata psikolog-psikolog, masa SMA. Gue yang ga punya temen kecuali tiga manusia extraordinary ini. Wanita-wanita yang hebat, kuat dan berpikiran maju. Terdengar klise, tapi boleh di test, coba kasih ujian paling susah buat CP. Kita udah pernah ikut-ikutan menolak keputusan dinas pendidikan mengenai pembekuan ekstrakulikuler pecinta alam, pernah dimarahin sama TNI dan pasang muka badak, bukan sedikit melakukan debat dengan wakil kepala sekolah bahkan kepala sekolahnya, mengorganisir sebuah acara, banyak deh ! Too much story to tell.
 
Gue bersyukur lahir tahun 1997 dan masuk ke SMAN 70 Jakarta pada tahun 2012, sehingga gue bisa menemui manusia-manusia hebat yang tidak terekspos media. Wanita-wanita yang bekerja penuh integritas dan tanggung jawab.
 
Terima kasih untuk tetap bersama dan tetap menjadi kuat hingga saat ini. Terima kasih untuk saling mengerti dan menerima. Terima kasih untuk saling menguatkan dan saling mengisi. Terima kasih untuk tidak saling meninggalkan dan menghakimi di saat-saat terburuk yang kita lalu. Terima kasin untuk menunjukkan masih ada hal baik di dunia ini pada masa-masa berat yang disebut cinta dan ketulusan. Terima kasih untuk cerita yang bahkan terdengar lebih baik daripada yang ada pada novel-novel best seller. Terima kasih untuk menjadi keluarga, bukan hanya sahabat pada masa SMA.
 
Sebagaimana yang kita semua tau, teman yang baik adalah yang menolong temannya saat temannya terjatuh. Dan kita saling menertawai saat temannya jatuh.

11 November 2014

Kamu - Dia - Kekasihnya

Kamu adalah pelanginya
Tapi bukan langitnya

Kamu adalah embunnya
Tapi bukan paginya

Bersediakah kamu di posisi itu?
Kamu kesayangannya, tapi bukan kekasihnya
Kamu dan dia mengetahui itu
Bahkan kekasihnya mengetahui itu
Kekasih yang benar benar ia cintai

Dia tak mencintaimu
Tak pernah benar mencintaimu

Iya, semua orang tahu
Dia memanjakanmu
Dia mengucapkan kata kata cinta
Dia membuatmu merasa istimewa
Tapi tetap kamu bukan kekasihnya

Dan kamu menerima keadaan itu

Hingga titik jenuhnya berlalu
Lalu dia kembali pada kekasihnya
Dan kamu hanya bisa menangis

5 November 2014

Finding the Right Man

Berawal dari 5-6 tahun yang lalu, disaat gue masuk SMP dan mulai ngebet pacaran. Sengebet itu. Alaynya ya. Soalnya kan emang dari SD gue deket sama yang namanya Wandita Dwi Desani dan super banyak yang suka sama dia. Pasti di sudut hati yang terdalam ada perasaan iri. Dan sejak dahulu kala gue suka sama Ka Andri Juniawan yang tidak pernah sedikitpun menghiraukan gue. Entah kenapa pula gue pernah suka sama dia. Dia sedikit norak, gendut, dan pendek.

1 Oktober, entah tahun berapa, sore itu gue hampir jatoh dari motor karena ngeliat Ka Andri di pinggir jalan. Dan lalu kenalan sama temennya yang bernama Gilang Bakti Raharja. Pacar gue yang pertama. Orang yang salah dan tidak tepat untuk dijadikan pacar pertama. Menyedihkan. Gue juga yakin kalo dia dulu ga pernah beneran suka sama gue, dia hanya memanfaatkan anak kelas 1 SMP yang ngebet pacaran. “Kalo ada kesempatan kenapa ngga dimanfaatin?” Gitu sepertinya kurang lebih.

Dia pervert. Dan gue adalah korbannya. Gue pikir keren punya pacar, ternyata engga. Alhamdulillah gue sudah bisa mengingat hal ini tanpa menangis walaupun masih merasa jijik dengan diri gue sendiri. The way he kissed me, the way he hold me. I’m nasty. Forgive me god. Tapi gue berani bersumpah bahwa gue menolak. Bahwa gue ga suka. Atau paling tidak gue berusaha untuk meolak. Dia terlalu kuat. Dan gue merasa jijik. I ever wish I could kill myself.

Dan lalu dia yang belum putus sama Ka Ikha Pratiwi Ramadhani saat jadian sama gue. Kok gue mau mauan aja ya. Yatuhan. Kenapa gue sealay itu. Dia yang possessive dan tidak mengizinkan gue buat jalan sama temen laki-laki gue. Dia yang marah disaat gue ga bales sms dia segera. Jaman itu belum nge-trend yang namanya line, bbm, whatsapp atau apapun yang lain. Possessive-nya itu loh. Yang salah siapapun, entah gue atau dia, dia terus yang kesel sama gue. Lah siapa yang cewek? Gue yang cewek dia yang ngambekan.

Dan banyak sekali yang gue ambil dari pacaran yang cukup lama dan sangat menyiksa itu. Pertama, yang namanya gaya pacaran beda usia pasti beda juga gaya pacarannya, apalagi kalo dari umur 12-17 gitu, pokoknya waktu gue kelas 1 SMP dia kelas 2 atau 3 SMA gitu gue lupa. Gue yang baru lulus SD dan belum tau apa-apa sudah dengan sialnya mendapatkan seorang pacar yang menjijikan cara pacarannya. Terima kasih Tuhan.

Dan lalu yang kedua adalah bahwa ga boleh balikan sama mantan karena saat putus pasti ada yang salah dan balikan tidak membuat kesalahan itu hilang. Balikan itu sama aja kaya sengaja  jatuh ke lubang yang sama dua kali. Bodoh. Berharap bisa memperbaiki hal yang tidak bisa diperbaiki. Gue lupa pacarannya berapa lama, abis itu putus dan balikan cuma karena Gilang ngeliat gue jalan sama Yudira, lalu dia cemburu padahal waktu itu statusnya dia cuma mantan. Bodohnya adalah gue mau juga diajak balikan sama dia cuma karena begini, gue ceritakan patah hati pertama gue.

Sekarang setelah gue beneran pernah merasakan apa itu sayang, gue menyadari bahwa waktu itu gue ga pernah sayang sama dia. Gue hanya meyakini dan membenarkan hal yang sebenernya Cuma dibuat-buat. Aneh. Dan gue baru mulai suka sama dia pada bulan-bulan ke 3, entah kenapa dan entah gimana. Dan lalu dia mutusin gue gitu deh pokoknya. Lalu gue patah hati atau apalah itu namanya, tapi gue juga yakin bahwa itu adalah patah hati semu karena ya gue aja gak pernah sayang sama dia, gimana gue bisa patah hati, gue hanya berpikir gue patah hati. Korban globalisasi yang terlalu cepat.

Gue bener-bener jadi korban sinetron. Nangis berbulan bulan. Galau. Pake acara beset-beset tangan pake kaca. Aduh gue inget banget pada satu masa yang melelahkan Muhammad Rizkiaputra bilang ke gue “ngapain lo kaya gitu. Lo bunuh aja diri lo sekalian” lalu gue disabet pake sarung. Dan setelah itu gue sadar. Dan lalu disaat seperti itu datang Yudira Hidayat yang menghibur gue. Disaat gue sudah move on, diajakin balikan, mau. Gue menerima Gilang kembali karena gue mikir mungkin gue akan menyesal kalo gue tidak menerima dia kembali. Keputusan yang salah.

Dan lalu yang bisa gue pelajari berikutnya adalah untuk jangan pernah lagi pacaran sama orang yang ngga gue sayang dan ngga sayang sama gue. Yang cuma main-main dengan niat yang ga baik, cuma mau manfaatin. Jangan pernah lagi sekalipun pacaran sama orang kaya gitu. Dan Alhamdulillah itu adalah pelajaran yang baik. Karena gue sudah mempelajarinya sejak gue berumur 13 tahun.

I learn the hard way, tapi apa bedanya, toh pada akhirnya gue belajar juga. Gue bersyukur Tuhan memberikan gue akal untuk berpikir.

Pengalaman pacaran kedua kombinasi seimbang antara manis dan pait. Pendekatan yang cukup lama sebelum akhirnya pacaran, lalu patah hati pada masa pacaran, diselingkuhin, beneran sayang, kombinasi dari berbagai perasaan deh.

Kenal sama dia, Yudira Hidayat sejak gue SD tapi baru deket sama dia itu waktu putus sama gilang. Awalnya karena temen gue, Fariza Putri Fami suka sama Ka Reggy Gumilang Hadiansyah, dan gue berusaha menjodohkan mereka, lalu malah gue yang jadi deket sama Yudi padahal gue dan dia adalah perantara. Lalu jauh lagi saat gue balikan sama Gilang. Karena seorang Aisyah Jasmine Yyogaswara gak pernah dan gak akan pernah selingkuh, jadi gue dan dia jauh. Dan deket lagi setelah gue putus lagi sama Gilang. Kakak-adean romantis selama setengah tahun lebih lalu jadian pada tanggal 23 Mei dan putus karena dia menyianyiakan gue.

Pacarannya dulu cukup berkesan karena gue beneran sayang sama dia waktu itu dan dia beda sama Gilang yang possessive, dia mengerti dan mengayomi gue. Beda umurnya 3 tahun. Ya, gue hampir ga pernah suka sama cowo yang seumuran karena berbagai alasan. Cukup menyenangkan sampe akhirnya setelah pacaran beberapa bulan dia mulai berubah, tapi itu adalah hal yang biasa aja dan tidak mengganggu gue.

Masalahnya adalah pada satu masa dimana dia mulai menghindari gue, mungkin setelah sekitar hampir satu tahun pacaran. Mungkin dia bosan. Mungkin dia lelah. Dan dia selingkuh. Dan saat itu yang ngasih tau ke gue adalah kakanya sendiri. Alhamduillah gue deket sama keluarganya. Sering main ke rumahnya, main sama adeknya, bantuin mamanya bikin kue, bahkan di nikahan kakanya aja gue yang jadi pager ayunya. Kembali fokus, dia selingkuh sama siapa ya namanya, pokoknya cewek itu tuh emang dari dulu suka sama Yudi dan sempet kesel setengah mati waktu gue pacaran.

Gue emang sayang beneran sama dia waktu itu, tapi gue bukan cewe yang bakalan diem aja kalo digituin. Dan malem itu gue ketemu sama dia. Entah siapa yang mutusin, lupa. Tapi malem itu sepertinya adalah patah hati pertama gue yang beneran. Gue ga terima lah diselingkuhin sama orang yang gue percaya ga bakalan nyakitin gue. Tapi setelah itu besoknya diralat sih putusnya. Seminggu setelah itu gue yang kaya ngejar-ngejar dia, gue mecoba untuk masih mempertahankan. Mecoba perhatian dan pengertian setiap saat, ga marah disaat dia ninggal-ninggalin gue seenaknya. Hingga satu minggu setelah putus perdana itu, gue memutuskan untuk move on dan melepaskan segala hal tentang perasaan dan hubungannya. Tiba-tiba pada hari ketujuh dia nangis nelfon gue bilang dia nyesel dan lain-lain. Hari itu gue antara bahagia dan bingung. Kenapa hari itu disaat gue memutuskan untuk berhenti.

Setelah itu dia yang jadi super baik dan gue yang jadi ga perduli. Mungkin kaya gitu sampe 3-4 bulan sebelum akhirnya gue bisa biasa aja sama pacar gue sendiri waktu itu. Ya gimana engga, diselingkuhin dan harus memaafkan. Tapi gue emang memaafkan dengan ikhlas pada waktu itu, hanya saja gue tidak lupa, dan jadi lebih waspada.

Dan lalu setelah hampir 2 tahun hubungannya. Dan dia mulai menyianyiakan gue. Rasanya kaya dia udah ga sayang lagi sama gue. Dia sudah tidak mmepertahankan hubungannya lagi. Kalo ada masalah dia udah ga berusaha menyelesaikannya, mulai ilang ilangan lagi. Dan gue bukan ga pernah ngomong, gue udah bicara dan dia tetap begitu. Gue memutuskan untuk take a break selama satu bulan, karena gue merasa perlu mengevaluasi dan mempertimbangkan apakah hubungannya masih bisa dilanjutkan. Buat apa mempertahankan hubungan kalo bukan dua-duanya yang mau, hubungan itu antara dua orang, kalo cuma sendiri yang usaha ga bakalan bisa jalan

Berdasarkan pada pemikiran itu, dengan berat hati gue menyudahi hubungannya. Bukan karena gue udah ngga sayang, tapi gue beneran sampe udah kebal saking seringnya merasakan patah hati ringan. Ibarat bangunan sekuat apapun kalo berkali-kali kena gempa ringan pun pada suatu saat bakalan rubuh. Kesannya kaya tiba-tiba, padahal engga, sebenernya bangunan yang keliatan kokoh itu udah ada banyak banget retak kecil yang ga dibenerin sama pemiliknya. Gue masih sayang kok sama dia waktu putus, tapi gue ngerasa hubungannya udah ga pantes di pertahanin, dan gue ikhlas.

Banyak juga yang gue pelajari tentang keberanian untuk menyayangi dan disayangi. Tentang patah hati yang sebenernya, bahwa patah hati itu gak harus selalu nangis setiap hari, ada juga nangis yang ngga pake air mata. Tentang kepercayaan yang dihancurkan. Tentang mempertahankan tanpa dipertahankan. Jadi, sesayang apapun, sepercaya apapun, seserius apapun lo sama seseorang, bukan jaminan lo akan mendapatkan hal yang sama dari orang itu.

Setelah itu gue menjalani bulan-bulan jomblo gue dengan biasa aja. Karena gue sudah ikhlas jadi gue ngga galau galau, nangis nangis atau apapun. Gue cuma nangis sekali di malem saat gue putus, cuma sekali dan sebentar, di pelukan nyokap gue. Gue sibuk sekolah dan ngurusin eskul. Sampe seseorang dari masa kecil gue dateng lagi, Habibie John Bevis, temen SD gue.

Entah mau menceritakan hubungan yang ini kaya gimana. Dia baik. Sangat baik. Karena Yudi ga romantis, jadi gue sempat berpikir gue menginginkan cowok romantic. Dan Habibie adalah cowo yang perfect secara mainstream. Bule, loyal, manjain lo, lo minta apa aja dikasih, lo mau kemana aja dianterin, gitu deh. Untungnya gue sih bukan tipe cewe yang matre. Dan Habibie ternyata bukan cowo yang cocok sama gue. Gue ngga bisa pacaran sama cowo yang ga bisa pegang kendali atas gue, maksudnya gue kan sering egois, manja, ngototan, bossy, susah diatur, dan lain-lain. Dan gue ngga bisa sama cowo yang nurutin mau gue terus. Bosen juga lah. Dan akhirnya hubungannya disudahi segera. Gue bahkan ga inget jadian kapan, berapa lama, putus kapan, entahlah.

Pelajarannya, kadang lo ga bener-bener menginginkan apa yang lo pikir lo inginkan. Mungkin lo hanya terpengaruh lingkungan lo, atau hal lain. Dan tak selalu yang berkilau itu indah. Entah Habibie kurang apa selain kurang macho. Dia romantic dan baik. Tapi tetep aja gue lebih memilih cowo yang biasa aja kayaknya. Yang emang cocok. Hati itu ngga bisa dipaksain. Kalo emang ga sayang ya mau gimana kan.

3-4 bulan setelah putus gue sudah mulai bosan ga punya pacar. Tapi gue juga bukan tipe manusia yang emang nyari-nyari pacar, yang suka kenalan dan tiba-tiba deket sama orang ga jelas atau nanggepin kalo orang lain modus. Anehnya adalah, sebosen apapun gue ngga punya pacar, tetep aja kalo ada orang yang modusin gue dan gue ngga suka pasti gue hindarin. Gue ga pernah sedikitpun mau memanfaatkan orang lain, karena perasaan bukan hal yang gampang

Dan di bulan bulan seperti itu gue merasakan hal yang sangat aneh, baru dan gila. Love on the first sight. Belom pernah kaya gitu. Karena sejak pacaran yang pertama, gue pernah menjadi korban karena gue pacaran sama orang yang baru gue kenal. Tapi gue suka ambil resiko, walopun gue sepenuhnya sadar bahwa perbedaan antara berani dan nekat itu tipis, untungnya gue adalah seorang fighter dan survivor. Jadi, setelah gue mengalami jatuh gue bangkit. Dan setelah gue pernah melakukan kesalahan, dengan perbedaan tipis antara berani dan bodoh, gue memutuskan untuk melanjutkan kegilaan terbesar gue yaitu melanjutkan hubungan sama orang yang baru banget gue kenal.

Gue yang suka sama cowo ini sejak awal, jadi iya, gue yang mendekati dia. Tapi gue bukan kaya cewek-cewek norak  yang kalo ngedeketin cowo tuh lebay. Tapi gue beneran modus. Karena gue beneran sayang sama dianya. Dari awal gue tau kalo gue harus melakukan apapun, kalo gue harus memiliki dia. Karena dia istimewa. Gue tau dia istimewa, tapi gue ga tau dia akan jadi seistimewa ini ternyata buat gue.

Tias Arifiandi Nugraha, cowo yang ngebuat gue berani percaya sepenuhnya sama perasaan gue. Belom pernah gue sayang sama cowo sedalem ini. Berani banget  gue pacaran sama dia secepet ini. Gue pacaran sama dia persis satu bulan setelah gue kenal dia, dan di hari ulang tahun gue yang ke 17, 15 april 2014. Dan sampe saat ini Alhamdulillah udah mau 7 bulan dan gue masih sayang banget sama dia. Engga bosen. Engga berkurang sayangnya. I fall for him everyday.

Entah apa yang membuat gue ngerasa cocok dan sayang terus sama dia walopun kerjaan gue ngambekan terus, dianya juga sibuk terus, gue juga lagi sibuk sama eskul gue, terus kerjaan dia tuh ngeledekin gue terus, dianya melankolis total, kalo jalan ga pernah tau tujuan, sering berantem berantem ringan, dia ga peka kalo gue lagi kesel, kalo gue lagi kesel bukannya disayang sayang malah dibercandain, suka jayus dua-duanya kalo bercanda, suka melakukan kekerasan yang tidak disengaja, tapi hanya dia juga yang ngebuat gue ngga tahan ngambek lamalama, yang bisa bikin gue berhenti ngambek gitu aja saking sayangnya, yang bisa aja ngebuat gue ketawa-ketawa terus, yang ngga bisa ngga maafin dia, yang super ngeselin tapi super ngangenin, yang ada disaat gue membutuhkan, yang meluangkan sebagian besar waktu luangnya dengan gue, yang mau melakukan pengorbanan gila sejak awal, yang beneran sayang sama gue, yang selalu memaafkan, yang bikin gue ngga bisa lepas dari dia deh pokoknya.

Dan gue masih jatuh cinta sama dia setiap hari, mungkin karena gue yang belajar menjadi manusia yang bahagia juga kali ya, jadi dengan sengaja tidak mengingat hal-hal yang ga baik mengenai hubungannya, misalnya kaya marahan, ngambekan, keselkeselan gitu-gitu. Jadi yang gue inget hanyalah betapa bahagianya disaat gue sama dia. Selalu. Hampir setiap hari. Tuhan, terima kasih.

Gue sangat bersyukur ketemu pria sehebat dia disaat gue sedang seperti ini. Sebenernya gue berharap ketemu sama dia lebih cepat sehingga gue bisa telah mencintai dia lebih lama, dan karena gue ngga suka memikirkan dia pernah mencintai orang lain sebelum gue dan gue bukan orang yang menemani dia dari dia bukan siapa siapa sampe hari ini dia sudah menjadi seseorang yang bisa membuat orang tuanya bangga, gue menyesal. Tapi gue juga bersyukur, karena mungkin kalo gue ketemu dia di umur guee yang belom 17 tahun, gue belum cukup matang untuk bisa menjaga dan menghargai dia.

Entah bagaimana kelanjutan hubungan yang ini nanti. Apakah akan menjadi semanis ini hingga seterusnya untuk waktu yang sangat lama, atau sebaliknya, semua hal semanis dan seberkesan ini akan hilang gitu aja. Tapi yang kaya gitu ngga usah di pikirin lah ya. Jalanin aja semaksimal mungkin.

Dan gue mensyukuri seluruh perjalanan ini, dengan berbagai macam cinta dan pria yang pernah ada di hari dan hati gue, hingga saat ini, di saat yang gue percaya ini adalah saat yang tepat, tuhan mempertemukan gue dengan seorang pria yang sangat hebat dan berarti lebih dari yang pernah gue bayangkan sebelumnya. Semua kesalahan dan kegagalan dalam hubungan gue di masa lalu adalah bagian yang membuat gue bisa jadi cukup pantas untuk dia saat ini. Dan gue tidak menyesali apapun karena semua yang pernah terjadi yang membawa gue bisa sama-sama sama dia yang tepat saat ini. Dan gue berharap cerita gue sesederhana itu, dengan tidak lebih banyak cowok di hidup gue karena gue merasa yang gue miliki sekarang lebih dari cukup. Seseorang yang gue cintai tanpa alasan dan maksud tertentu. Yang ga pernah berhenti gue cintai sejak hari pertama gue mulai sayang sama dia. Terima kasih tuhan, he is the one.

20 Oktober 2014

Sejak Pertemuan di Gintung 188 Hari Yang Lalu


188 hari yang lalu, tepat di ulang tahun aku yang ke 17, ada yang dateng jauh jauh dari Jakarta ke Gunung Cikuray. Nemuin aku. Niat banget, bawa kue, ngedaki sendirian malem-malem. Makasih ya. Aku belom pernah sempet bilang makasih atas hari yang sangat  istimewa, ulang tahun yang sangat berkesan. The real sweet 17. Salahsatu kegilaan terbesar yang orang lakuin buat aku. Dan hari itu awalnya, yang jadi chapter 1 dari cerita yang bakalan kita jalanin dan kita tulis sama-sama. Dan hari itu aku juga mendapatkan salahsatu kegilaan terbesar aku, karena telah memutuskan untuk berani menerima orang yang baru aku kenal buat jadi bagian dari hari hari yang akan datang.
 
Mari aku ceritakan pertama kalinya ketemu seorang Tias Arifiandi Nugraha. Dapet undangan buat ikut latihan gabungan sispala dari Lingkar Selatan di Situ Gintung, 15 Maret 2014. Aku dateng aja udah salah kostum, orang-orang pake kaos, celana training dan sandal jepit, sedangkan aku dengan bodohnya pake setelan buat ke mall. Dateng pagi sedangkan acaranya ngaret dan baru mulai sore. Hari itu panas sekali. Dan acaranya baru mulai sekitar jam 2-3 an.
 
Saat lagi duduk duduk nungguin acaranya mulai, tiba-tiba temen aku yang bermuka India, Sarita, bilang "Jodoh lu tuh Ai." Dan tanpa nganggep itu serius, aku cuma jawab, "Mana? Engga ah." Sebelum acaranya mulai, tiba tiba dari tenda pleton yang disediain panitia, keluarlah seorang pria ibarat model Giordano nyasar di Situ Gintung (aduh lebay). Dan aku terpana, anggap saja itu love on the first sight. Dan ternyata itu adalah cowo yang tadi Sarita maksud. Aku langsung ganti jawaban, dari yan tadinya "Engga ah" menjadi "lumayan juga". Saat itu, aku tahu apa yang harus aku lakuin hari itu! Target locked. Mission begin.
 
Hari itu latihannya adalah mengenai pengarungan. Sempet telat ikut materi karena ganti baju dan dandannya kelamaan. Dan saat ikut materi pun, ga konsen karena model Giordano itu berdiri persis di samping orang yang ngasih materi. Masih inget kok, dia pake topi item, baju panjang item, celana panjang, nyilangin tangan sok keren. Tapi emang beneran keren. Sepertinya dia senior, karna orang yang ngasih materi beberapa kali nanya ke dia.
 
Tuhan emang selalu tahu apa yang hambanya inginkan, tak ada hujan tak ada badai, keberuntungan pun berpihak sama aku. Saat praktek pengarungan, team aku dapet model Giordano itu sebagai guide. Ga buang kesempatan, dengan segala keberanian yang ada, aku ambil posisi di samping dia saat di perahu. Yang tadinya jijik dan ogah ogahan ikut latihan pengarungan, aku langsung semangat dan sok berani. Dan di perahu pun, aku makin ga konsen.
 
Sepertinya dia memeberikan beberapa materi di perahu yang hampir semuanya aku ga inget. I'm extremely nervous. Mari kita mulai latihannya. Di tengah danau, tiba tiba dia nyuruh semua orang turun dari perahu (nyebur) lalu dia turun. Oh my god. Aku selalu takut sama air yang ga ada dasarnya, dan lalu aku harus nyebur ke danau? Untuk pertama kalinya aku berani. Karena lagi modus, jadi ga mau dong keliatan manja dan lemah. Ya tuhan, entah ada apa di dalem air sana.
 
Kita semua ada di dalem air di tengah danau. Tiba tiba ada yang nyeletuk ngomong gini kurang lebih, "Ka, kok pelampung kaka jelek?" lalu karena dia sok keren, dia ngelepasin pelampungnya. Dan entah kenapa, aku refleks ngomong "Ganteng sih ganteng aja ka." Maksud aku tuh dia ganteng kok lagi gimanapun, walaupun lagi basah basah di tengah danau, tetep ganteng. Tapi malah kedengeran jutek. (Di kemudian hari, dia bilang kalo saat itu dia nganggep aku jutek dan sok).
 
Modus tak berakhir di situ. Ada yang namanya flip flop perahu. Dia sedang mau mengajarkan materi itu, dia minta satu orang buat dia ajarin ngeflip perahu. Aku semangat dong. I volunteer. Diajarin caranya ngeflip pake dayung. Aku ga kuat, terus dibantuin gitu sama dianya. Dia bantu narik dayungnya, dan his hand touched mine. Alhasil, jantungnya dag dig dug ga karuan, makin ga konsen, kayaknya jadinya waktu itu akunya bukannya narik sama dia malah jadi bengong sendiri deh. Disaat se-berbunga bunga itu, tiba tiba dari perahu lain Sarita neriakin, "Ai sudom (re: modus)".
 
Modus part 3 adalah yang paling susah dari semuanya. Saat udah selesai pelajaran mengenai flip flop dan mau balik ke daratan, yang harus pesertanya lakukan adalah naik ke perahu. Perjuangan banget. Naik ke atas perahu itu sangat susah, buat yang ga tau. Dan saat itu aku mengerahkan seluruh tenaga karena jaim, yakali di depan dia aku keliatan culun. Dan saat itu adalah pertama dan terakhir kalinya aku bias naik ke atas perahu. Dari 5 orang team aku, yang bias naik perahu cuma 2 orang, dan aku salah satunya.
 
Saat lagi dayung waktu mau pulang tuh dia nyebelin banget ya. Dia berkali kali bilang "Dayung kuat. Dayung kuat." Dia ga tau apa, itu tuh udah sekuat tenaga banget. Emang perahunya aja yang susah jalannya. Dan di perjalanan sempet sedikit ngobrol sama dia, basa basi sih, cuma cari bahan obrolan aja. Namanya Tias. Nama yang ga aku bayangkan saat itu akan jadi nama orang yang akan punya arti dan cerita di kemudian hari.
 
Setelah sampai ke tepian, team aku turun dari perahu dan jalan dari tempat yang mulai dangkal. Tapi krena aku agak masih sedikit memikirkan 'jijik', jadi aku ga turun dari perahu dan nunggu dia narik perahunya sampe perahunya bener bener nyentuh daratan. Terkesan sok. Tapi ga niat sok, emang beneran jijik.
 
Saat turun dari perahu, I'm walked with style, lalu tiba tiba kepeleset di depan dia. Aduh malu, rasanya langit mau runtuh. Dia menawarkan bantuan, tapi again, karena waktu itu jaga image, aku jawabnya "Ga, ga usah." Maksudnya adalah aku bisa sendiri kok, ga mau di tolongin karna malu, tapi yang kedengeran orang lain ga gitu (Di kemudian hari, dia bilang saat itu dia menganggap aku sangat sombong) Waktu itu aku belum kenal dia, jadi aku ga tau kalo dia adalah salahsatu orang yang di hormati di lingkungan itu, cukup terkenal, kaya dianggap senior gitu. Dan karena penolakan yang tadi, orang orang yang ngededenger aku ngomong gitu pun jadi talked behind me, sepertinya mereka ga suka aku.
 
Ganti bagu, bersih bersih, dandan lagi. I have to get his number! Yang namanya nungguin sampe maghrib karna abis itu dia jadi guide buat perahu lain. Ngeliatin dia dari tepian danau dengan cuaca yang mendung berpetir. Aku tetep setia nungguin dia selesai. Dan akhirnya dia selesai, lalu duduk sama temen temennya. Aku minta junior aku nemenin aku minta nomer dia, bilangnya mah buat keperluan organisasi, padahal ada motif tersembunyi. Tapi apa? Keberanian aku abis. Aku berhenti dan terpatung 3 meter dari dia dan nyuruh junior aku buat maintain nomer dia. Di kasih ! Nomer hp dan pin bbm.
 
Hari itu indah. Hari itu bahagia. Abis dapet nomer dia, aku pulang sambil nyanyi nyanyi dan loncat loncatan happy. Untung dia ga liat. Malem itu juga, muncul invitation di bbm dia.
 
Time past, love blossom. First text, first call, first dates, first movie. Di tanggal 15 April, 1 bulan kemudian, we're officially in a relationship.
 
Terima kasih atas kesempatannya. Terima kasih atas tawa, kebahagiaan, cinta, cerita, perhatian, waktu, kepercayaan, semangat, dan segalanya. Dan semoga apa yang terjadi selama 188 hari ini bisa buat kaka percaya, kalo apa yang aku serius dengan apa yang aku bilang di hari ke empat kita kenal, aku beneran suka sama kaka. Lalu sukanya berubah jadi sayang, dan sampe hari ini pun begitu. I fall in love with you since the first time I saw you, and now, I'm still fall in love with you everytime I saw you, everytime you say you love me, everytime you hold me tight, every morning. When I saw you, I know that I want you.
 
188 hari itu sebentar. Masih sangat sebentar. Dan aku ga mau cerita tentang kita cuma sebentar. Aku ga mau bahagianya cuma sebentar. Masih banyak yang belum kita lakuin, masih banyak hari yang mau aku laluin sama kaka, masih banyak lembaran kosong buat diisi cerita kita. Aku tau kita belom lama kenal, belom lama pacaran, tapi aku juga tau kalo we belong with each other. Buktinya, the whole universe merencanakan pertemuan kita, dengan segala kebetulan dan pilihan yang pernah kita pilih.
 
Semoga sampe ratusan dan ribuan hari kedepan kita masih ada di dalam cerita yang sama. Semoga masih akan terus seperti ini perasaannya. Don't stop loving me cause I won't. Believe in us. Love each other hard. Hold each other tight. Support each other. Kita masih muda, 17, 21, jadi mari maju sama sama, saling dukung buat jadi yang terbaik di bidangnya masing masing. Aku tahu kaka akan jadi seseorang yang hebat, dan aku juga akan berusaha buat bisa jadi seperti itu. We can get through anything, all we have to do is just believe in us. Iyakan? Mari jalani hubungan ini dengan komitmen, tulus dan integritas. Banyak wishnya untuk kita. Biarkan Tuhan yang tau semuanya di dalem doa doa sebelum aku tidur.
 
P.S I love you

13 Oktober 2014

Lemme Tell You

Oke, let's talk about something. Anything. Banyak yang sedang gue pikirkan dan gue mau cerita.

Pertama, Iya apa salahsatu bagian dari menjadi dewasa adalah jadi kuat. Dan jadi hebat. Dan ga manja sama emosi. Dan ga manja sama ego. Dan bertanggung jawab. Dan dapat menempatkan diri. Is it that hard? Dengan bodohnya dulu gue berharap gue cepet cepet berumur 17. Dan sekarang gue 17 tahun. And i hate 17 so damn much. Gue mau jadi kuat, jadi ga manja, tapi kadang masih sering banget mikirin capeknya. Enakan jadi egois. Tapi manusia harus belajar buat jadi lebih baik. Damn.

Second, gue sangat bahagia akan meninggalkan masa SMA.Gue tidak, tidak pernah dan tidak akan menyukai masa SMA gue. Dari kelas 1 sampe sekarang beberapa bulan lagi gue lulus. Neraka. Satusatunya hal yang membuat gue mau bertahan disini adalah Sisgahana, karena gue punya sahabat, gue punya keluarga di Sisgahana, gue nyaman. Jadi kalo ditanya, hal terbaik apa yang terjadi sama gue pada masa SMA, jawabannya jelas dan emang cuma satu, Sisgahana. Gue membayangkan betapa bahagianya sekolah di Bandung, Malang, Semarang, atau dimanapun, asal gue cepet pergi dari jakarta. Gue tau gue akan kangen sama sahabat-sahabat gue, keluarga, cowo gue, tapi sorry, gue jauh lebih bahagia karena bisa cepetcepet pergi dari sini.

Ketiga, apaya, tentang hubungan sih. Gue ga suka ya sama orang yang labil. Yang abis putus, udah tau mantannya itu udah punya pacar tapi masih bersikap gimana gitu. Alay tau ngga. Emang lu anak smp yang pacarannya putus nyambung ga jelas? Yaudah kalo udah putus ya udah aja. Kalo mau temenan ya temenan biasa aja ga usah pake alay sok flashback flashback. Dan Hubungan itu ga main main. Ga suka aja sama orang yang menjadikan kata 'putus' itu mainan. That's why, seorang Aisyah Jasmine Yogaswara ga pernah ya yang namanya balikan. Never. Ever. Dan kalo ditanya, dari sekian banyak wanita, siapa yang paling gue cemburuin, jawabannya adalah mantan. Oke gue memikirkan ini karena gue lagi panas abis ngestalkin mantannya pacar.

Keempat, kenapa gue harus seperti ini. Gue stress. Stress sama pelajaran sih terutama. Kan sebentar lagi mau ujian nasional. Gue tau bikin sistem pendidikan sebuah negara itu ga gampang, tapi please, siapapun yang membuat sistem pendidikan di indonesia menjadi seperti ini, ini sangat stressfull, membuat siswa tertekan dan sangat kelelahan dan keteteran tau ngga. Anak itu sampe sma harusnya masih berhak untuk punya waktu main ya. Lah ini, sekolah sampe sore, tapi karena kadang pembelajaran di sekolah ga efektif, jadi harus bimbel, sampe malem, pulang capek langsung tidur, besoknya sekolah lagi. Kalian pikir tidak melelahkan?

Kelima, ada yang bilang, kadang kita ga sadar when we pushed people away. Itu bukan hal yang bagus. Gue tidak seharusnya pushed people away. Tapi gue melakukan hal itu. Kenapa? Entahlah. Gue aja ngerasa aneh sama diri gue sendiri sekarang, mungkin itu kenapa gue juga jadi menjauhi orang lain. Maaf. Gue tidak bermaksud. Gue juga sedang belajar untuk heal my own sadness dan menyelesaikan masalah gue dengan diri gue sendiri. Doakan yaa.

Keenam, gue takut tuhan tidak memberikan apa yang gue inginkan. Oke, manusia bisa milih tapi pada akhirnya Tuhan yang nentuin. Itu pernah terjadi. Gue sangat ingin masuk SMAN 1 Bogor. Lalu gue ga keterima. dan gue keterimanya di SMAN 70 Jakarta. Oke, anggep aja itu jalan Tuhan. Lalu gimana kalo nanti, lagi-lagi Tuhan tidak memberikan gue jurusan dan universitas yang gue inginkan? Gue ga boleh marah sama Tuhan. Gue tau 'Dia memberikan yang terbaik', but still, ikhlas is not that easy.

Ketujuh, ada saat dimana kita berasa rapuh, breakable, fragile. Dan disaat seperti itu.. Gue ga tau, apakah okay buat membiarkan orang lain melihat kita apa adanya, lemah begitu, atau kita pura-pura kuat. Duaduanya ada kurang lebihnya. Dan gue ga tau mana yang lebih baik. pernah denger quotes: "we are what we pretend to be". Gue sangat tidak suka harus berpurapura, tapi, seiring bertambahnya usia, gue akhirnya mengerti bahwa kadang kita ga bisa juga nunjukkin diri kita ke semua orang.

Kesimpulan, gue sangat menyadari gue ada di dalam fase dimana gue sedang melangkah, dari masa remaja ke masa dewasa. Ga gampang. Rasanya aneh. Masih banyak harus belajar. Dan gue galau. Sekian. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatu. God bless. Hakuna matata

7 Oktober 2014

Bu...

Bu…Aku ingin ceritaSudah lama aku tak berceritaSibuk ini berlebihanPergi dari pagi sampai malamMasih berkegiatan di akhir mingguTenggat waktu yang taka da habisnyaIngin tidur nyenyakBangun tanpa tenggat waktu baru

Aku ingin menghilang sajaTapi ibu pernah ajarkan tanggung jawabBahwa kabur tak akan menyelesaikanTidak mudah ya bu untuk bertanggung jawabWaktu menjadi begitu sempitPikiran menjadi begitu penuhKadang bahkan tak ada waktu untuk merasa lelah

Ingin bersandar pada bahumuIngin bersembunyi dari duniaTapi, tidakkak aku sudah terlalu besar?

Bantu aku, doakan aku ibuDoakan  aku menjadi kuatDoakan aku tidak hancur karena tekananDoakan aku bias menjadi seorang wanita dewasa yang kuat dan bertanggung jawabDoakan aku bisa menjadi sepertimu

Bu, aku lelah
Bu, aku ingin tidur tanpa pikiranBu, aku ingin kabur sajaBu, inikah rasanya menjadi dewasa?Bu, aku mau peluk lagi seperti duluIngin tidur dalam pelukanmu


5 Oktober 2014

Bara Api

Ada bara api setelah api pada kayu. Kayu yang buat apinya menyala. Setelah apinya mati, kayu berubah jadi arang. Arang tetap menyala, bara api tetap ada. Kalau nanti ada angin, arangnya bisa membuat api baru. Tapi ada saat dimana bara apinya benar-benar mati, bukan dalam waktu yang singkat memang, tapi ada saat dimana bara apinya akan beneran mati. Dan disaat itu baru kita bisa bikin api yang baru. Sekian.

Terjemahan:
Gimana kalau api adalah ibarat dari cinta, kayu adalah ibarat dari hati, dan bara api dan arang adalah ibarat dari kenangan, angin adalah ibarat flashback, atau apapun yang ngebawa lagi kenangan lama.

Masih ga ngerti?
Yang namanya cinta itu bakalan ninggalin bekas. Jangan coba untuk menyangkal, karena itu memang benar. Itu kenapa kadang orang belom move on setelah putus. Dan ada orang yang sadar atau ga sadar dia belom move on. Buat yang ga sadar dan ga mengakui, itu bahaya. Karena akan mudah untuk memunculkan perasaan yang dulu ada saat belom move on, hanya butuh satu momment. Dan hati yang belom move on ga bakalan bisa diisi dengan cinta yang baru buat orang lain sepenuhnya ya kalo belom move on. Yang kasian adalah pacar berikutnya karena ga bakalan bisa milikin hatinya sepenuhnya. Dan itu akan sangat menyakitkan dan ga adil.

Sekian

4 Oktober 2014

Untitled

Kadang butuh sunyi agar bias mendengar. Butuh gelap agar bias melihat. Tapi butuh apa agar bias merasa?
 

Diam
 

Sederhana bukan?

28 September 2014

Selamat Malam

Selamat malam. Selamat menemaniku menghabiskan segelas kopi lagi di bawah cahaya bulan yang canggung. Menghabiskan lagi malam yang cepat berlalu.

Selamat malam. Selamat menemaniku lagi. Mendengarkan setiap desiran angin, setiap suara daun daun jatuh, setiap suara air yang menetes dari rumput ke tanah. Harmoni tanpa suara. Kebisingan akan kesunyian.

Mari, duduk di kusen jendela lantai dua. Bersatu dengan malam, melebur dengan gelap. Biarkan saja lampunya mati. Kita punya cahaya bulan.

Menghitung detik menuju hari yang baru. Karena besok, setelah tengah malam, sudah tepat 365 hari. Iya, satu tahun. Tepat satu tahun sejak kamu bilang kamu akan pergi.

Seakan baru berlalu, begitu nyata. Indah Senyummu. Suara tawamu. Sentuhan kulitmu. Genggaman tanganmu. Hangat Pelukmu.

Iya, hari berlalu tanpa pernah lagi aku rasakan semuanya. Dan sekarang, satu hari lagi berlalu. Kamu masih tak ada disini.

Selamat malam. Selamat menemaniku lagi, meskipun kamu hanya ada dalam bayangku.

22 September 2014

Wan...

001
Iya, memang iya
Kita berdiri di tempat yang sama
Tidak, tapi tidak
Kita tak bisa jadi sama

002
Tetap tidak bisa setara

003
Kita tidak akan setara
Sebelum aku bisa berdiri persis ditempatmu
Sebelum aku merasakan yang kamu rasakan
Sebelum aku menjalani yang kamu jalani
Sebelum aku melalui yang kamu lalui

004
Air mata jadi doa
Peluh jadi bukti
Kulit kulit terbakar

005
Adalah bagaimana
Bagaimana untuk bertahan dalam lelah, dalam sukar, dalam keputusasaan, dalam lemah, dalam rendah, dalam tekanan, dalam rapuh, dalam derita

006
Dan aku mau
Aku bersedia
Aku akan melakukan segalanya, apapun
Untuk berdiri ditempatmu berdiri
Untuk jadi setara denganmu

007
Wanadri

19 September 2014

Ada seseorang yang sangat menginspirasi gue. Yang sangat gue kagumi. Dan makin banyak yang gue tau tentang dia, makin dia ngebuka dirinya, makin dia mengutarakan pikirannya, makin lama..gue makin kagum. Dan gue super cinta sama dia. Gue jatuh cinta sama karakternya. Gue jatuh cinta sama cara dia berfikir. Gue jatuh cinta sama cara dia memandang sesuatu. Dia sangat hebat di mata gue.


Gue ga tau banyak. Dia hebat dalam menyimpan untuk dirinya sendiri siapa dia dan pemikirannya. Dia hebat dalam membuat tembok tebal yang ngebuat orang lain ga bisa nyentuh dia. Dia membuat orang lain cuma bisa ngeliat dia sebatas yang dia izinkan. Dia susah ditembus. Dia complicated. Gue mengagumi dia sejak awal. Gue tau dia orang hebat. Gue tau gue harus banyak belajar dari dia. Gue tau dia orang yang pemikirannya patut dikagumi. Gue tau dia orang yang sifatnya patut dicontoh. Gue tau dia orang yang pantad untuk jadi panutan.



Dia tau apa yang penting ga penting buat dirinya. Dia tau apa prioritasnya. Dia tau siapa dirinya. Dia tau apa yang harus dan akan dia lakukan. Dia super keren. Bisa ngebedain hal penting ga penting dan mau mengamalkannya sesuai dengan seharusnya itu super keren. Dia mengagumkan karena dia orang baik. Karena dia apa adanya. Dia jujur. Dia cerdas. Dia pekerja keras. Dia ambisius. Dia tidak sombong. Karena dia adalah dia.

He ever said, paling gue kaya anak anak sma lain yang kagum, ngefans sama dia terus yaudah. Jadi kaya yang norak norak gitu alay carmuk lah gelendotan lah sama dia. Terus yaudah. Well baby, i'm not that kind of girl.



Okefix gue ngefans. Okefix gue mau jadi sehebat dia

17 September 2014

Gimana Rasanya?

Kadang membayangkan
Rasanya pipinya panas karena tangan orang
Rasanya diteriakteriakin sepanjang hari
Rasanya bangun pagi buta ngelawan dingin
Rasanya makan ga tenang diburuburu
Rasanya kangen sama makanan rumah biasa
Rasanya bawa carrier 15 kilo kemanamana
Rasanya long march super jauh
Rasanya ngerangkak di lumpur
Rasanya nahan sakit karena kaki lecet
Rasanya ngeliat orang enakenakan waktu kita disiksa
Rasanya bangun pagi dan sadar hari masih panjang
Rasanya menghitung hari hingga hari kebanggaan tiba
Rasanya memperjuangkan sesuatu seserius itu
Rasanya pengen pulang tapi ga mau nyerah
Rasanya jadi tuan putri

12 September 2014

Zi.kir

Kusebut namamu berulang, bagai zikir
Dalam setiap hembus nafasku
Seiring desiran darah di nadiku
Bukan nama Tuhanku kali ini
Tapi aku bukan menuhankanmu

Langkahku goyah, aku lelah
Nafasku sersenggal, sesak
Kadang terlintas untuk menyerah

Lalu kuucap lagi zikirku, namamu
Darahku mengalir lebih deras
Menimbulkan gejolak emosi
Tenaga itu tiba2 mengisi seluruh tubuhku
Membawaku melangkah satu langkah lagi

Dan itu yang ku butuhkan
Zikir
Namamu
Melafalkan namamu ratusan, ribuan kali

31 Agustus 2014

Pelajarannya Adalah..

Adalah organisasi penjelajah alam di sman 70 jakarta. Sejenis ekstrakulikuler. Tapi bukan hanya sekedar ekstrakulikuler. Organisasi. Salahsatu hal paling baik yang terjadi pada hidup gue selama 17 tahun ini. Organisasi yang menyita sebagian besar waktu dan pikiran. Menguras tenaga dan mental. Tapi sampai saat ini gue masih berpikir kalo itu semua worth it, sisgahana worth my best.

Awalnya anak kelas satu sma biasa. Smpnya di daerah, tiba2 smanya masuk sma se-wow sma 70. Mengalami culture shock. Ga punya temen. Masuk sisgahana, bertahan selama pra-pendidikan. Disaat yang lain banyak yang give up di tengah jalan, masih terus berjuang sana temen2 yang bertahan. Ikut pendidikannya. Dapet banyak hal. Jadi lebih bisa beradaptasi. Punya lebih banyak temen.

Emang apa yang gue daperin di pdgh? Jujur, untuk gue pribadi banyak. Untuk ga nyerah karena semua hal pasti ada udahnya, semua penderitaan dan kesukaran akan ada akhirnya, dan kalo gue bisa menguatkan diri sendiri untuk bertahan, akhirnya pasti indah dan sepadan. Bahwa gue ternyata bisa jadi lebih dari apa yang gue kira, bahwa ga boleh meng-under-estimate diri sendiri. Bahwa hidup gue sangat indah dan gue harus sangat bersyukur. Bahwa pengambilan keputusan yang tepat dan cepat pada saat2 yang urgent itu penting, gue diajarkan untuk berpikir di kondisi yang buruk. Bahwa istilah setia kawan itu bukan klise, tapi nyata. Bahwa makanan dan air harus sangat dihargai. Saat lo masih sanggup berdiri artinya lo masih harus berjuang. Bahwa cowo pengecut itu ada. Dan masih banyak lagi.

Lalu setelah pendidikan, pelajaran belum selesai. Mulai belajar tentang keorganisasian, tentang manajemen, tentang bagaimana harus bersikap, dan banyak. Jadi pendidikan aja belum selesai, ada masa-masa siswa, sebelum pengambilan nomor registrasi pokok. Dapet banyak hal juga. Terutama manajemen diri dan kelompok dan keorganisasian. Yang ternyata sering kita sepelekan tapi penting, dan ga mudah pelajaran manajemen tuh. Susah prakteknya. Awalnya gue belajar dari kegagalan yang sangat besar, naik gunung pertama gue, ke gunung gede sangat berantakan dan itu ternyata sangat mempersulit perjalanan gue dan temen2. Istilahnya, naik gunung malah jadi menderita. Pukulan keras buat gue. Semenjak saat itu, gue dan temen2 gue selalu mengusahakan dan menyiapkan yang terbaik bahkan hingga untuk hal2 kecil, karena ternyata manajemen yang baik akan memberikan perjalanan terbaik.

Ada masanya jadi senior dan harus membuat pendidikan. Jadi senior ga mudah, karena visinya adalah membuat junior2 gue mendapatkan hal2 baik disini dan bisa jadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Dan apa yang gue pelajari dari menjadi senior, buat tau tempat dimana harus bersikap gimana, bahwa gue ga boleh sombong, bahwa gue harus tetep selalu belajar, bahwa kita ga bisa membentuk seseorang seperti yang kita mau, hanya bisa membimbing. Dan yang gue dapetin dari bikin pendidikan jauh lebih banyak lagi. Bahwa gue harus memperjuangkan hal yang benar menurut gue. Bahwa pengambilan keputusan itu ga mudah. Bahwa kemampuan untuk meretorika dan argumen yang baik dan sehat itu penting. Bahwa kita tidak bisa membuat semua orang bahagia dengan keputusan kita, jalani yang dampak buruknya lebih kecil. Bahwa setelah debat dan diskusi, hasil keputusan bersama harus dijalankan dan dilindungi. Bahwa sebuah tim harus sangat kuat dan saling melengkapi. Bahwa selama masih satu visi, yang terpenting adalah tujuannya tercapai, bukan cara siapa yang digunakan untuk mencapainya.

Ada masa jadi badan pengurus harian setelah serah terima jabatan. Mengurus organisasi se-aktif ini dengan 4 orang pengurus inti sulit dan melelahkan. Tapi banyak pelajarannya juga. Bahwa birokrasi itu sulit dan menyulitkan kadang, disini diperlukan kecerdasan. Bahwa untuk pengambilan keputusan diperlukan pengetahuan mengenai masalah yang mendalam dan berbagi pikiran dengan orang yang tepat. Bahwa banyak orang yang sebenarnya tidak sepintar dan sehebat itu, mereka hanya menunjukkan seolah2 begitu. Bahwa berpolitik itu sangat menyebalkan tapi dibutuhkan. Lebih ke birokrasi dan politik sih yang didapetin pada masa-masa begini.

Gue baru mengenal sisgahana 2 tahun lebih, dan mungkin yang gue kenal sekarang baru kulitnya. Tapi yang gue dapetin udah sangat banyak. Gue ngerasa cara berpikir dan pola pandang gue banyak berubah. Gue mendapatkan hal2 baik dan menjadi lebih baik. Proses pendewasaan juga. Disini gue dibentuk. Dan gue bersyukur gue bertahan sama hal2 menyebalkan di sisga dan sekarang gue ngerasa itu bermanfaat.

26 Agustus 2014

pola-alop-pola-alop

Po-la pe-mi-ki-ran: sesuatu yg diterima seseorang dan dipakai sbg pedoman, sebagaimana diterimanya dr masyarakat sekelilingnya (kbbi)

Pola pikir menurut gua adalah ya cara orang berfikir, jalur jalur dalam otak seseorang gitulah. Kaya maze didalem otak. Ga deng. Entahlah apa. Dan pola pikir yang berkembang diperlukan dalam masa transisi remaja-dewasa. Kenapa? Karena ya emang itu harusnya jadi perubahan dari immature jadi mature. Kalo perkembangannya normal sih. Kalo ga normal ya immature sampe usianya menua. 

Sebenernya pada dasarnya pola pikir itu bukan hal yang sekali jadi, sekali diomongin pola pikir lo berubah total. Pola pikir pada dasarnya adalah penanaman sejak kecil, dan sebagian diantaranya bahkan yang ada di alam bawah sadar kita udah ada disana bahkan sejak entah kapan. Dan mulai berkembang sejak kita mulai bisa berfikir sendiri.

Dan menurut gue, pola pikir yang ideal adalah yang terbuka tapi punya prinsip mendasar yang kuat. Yang mau dengerin suara orang tapi punya suara sendiri. Yang berkembang luas ke segala penjuru tapi tetep tau batas. Yang dewasa sih. Yang bisa nyusun prioritasnya. Yang maju. Yang teguh. Yang hanya bisa dibatasi sama diri sendiri.

Itu kenapa kalo punya idola harusnya orang hebat, bukan entertainer. Karena saat kita mengidolakan seseorang, kita akan mau jadi seperti mereka, dan sedikit banyak akan meniru mereka. Jadi idolakanlah orang hebat dengan pola pikir super keren. 

19 Agustus 2014

Gue. Kangen. Parah.

Ahgila. Kampretnih ujian nasional. Secarik kertas tanpa arti. Nilai yang menentukan hal yang katanya penting, padahal biasa aja. Harusnya buat lulus sma tuh tesnya tes kejujuran, keikhlasan, loyalitas, gitu2 dah. Nilai dari mata pelajaran-mata pelajaran yang cuma segelintir materi dan teori dinilai lebih penting daripada kedewasaan, sikap dan pola pikir. Macam mana pola pendidikan seperti itu. Maju indonesiaku, maju, dalam 69 tahun kemerdekaanmu, jayalah ! Jangan jajah anak bangsamu sendiri dengan pemaksaan secara tidak langsung. Merdeka !

Garagara ujian nasional kampret itu, gue ga pulang pulang ke gunung lagiii. Syedih. Terakhir ke gunung juni, mungkin baru bisa ke gunung lagi april. Macam mana pula ini. Tak tahukah rindu membeludak? Lagi ngidam banget kesana deh. Sudah mulai penat dengan jakarta. Sudah mulai penat dengan tekanan. Sudah mulai penat dengan manusia.

Kangen sepatu yang kotor sama tanah. Kangen ngga mandi berhari-hari. Kangen bawa-bawa carrier isinya aqua 1,5 literx3 + tenda dan peralatan lain. Kangen kedinginan kalo malem-malem. Kangen makan indomie pagi-pagi dimasakin dinda sama sarita. Kangen menyapa dan disapa orang yang entah siapa. Kangen perasaan bahagia saat sampe ke pos berikutnya. Kangen perasaan "sumpah gue ga bakalan mau lagi naik gunung kampret" saat udah capeeeekkk banget dan ga sampe-sampe. Kangen pipis malem-malem bawa-bawa senter.

Dan itu semua adalah saat saat dimana gue sangat menikmati kesengsaraan. Saat dimana gue menghargai saat-saat sulit. Saat dimana gue akan sangat bersyukur atas apa yang gue jalani saat itu. Saat saat aneh. Kaya penderitaan yang manis. Dan disaat itu gue bisa bercermin, dan berpikir, dan memikirkan banyak hal.

Gue sampe saat ini jujur masih ga tau harus jawab apa kalo ditanya "lo ngapain naik gunung?". Tapi gue juga ngerti bahwa naik gunung itu berguna buat gue, entah gimana caranya, naik gunung itu ya menimbulkan perasaan damai, bikin bisa kenal diri sendiri, membuat gue bisa memikirkan banyak hal, memberi gue inspirasi buat tiba-tiba bikin quotes sok bijak, bisa kaya jadi pelarian juga. Tau deh gimana ngejelasinnya. Pokoknya ++++++ banget deh. Tapi gue masih mecoba mencari arti sebenarnya buat diri gue kok. Selalu. Dan gue entah kenapa kaya selalu pengen balik ke sana. Kangen.

Gue. Kangen. Parah.


11 Agustus 2014

...

Guess whudd? FINALLY ! Gue tau betul apa yang gue inginkan di masa mendatang. Satu jurusan yang gue idam-idamkan. Satu universitas yang gue idam-idamkan. Dan satu organisasi yang gue idam-idamkan. Ga perlu disebut. Yang kenal gue pasti tau.

Dan mimpi-mimpi itu gue simpen rapih buat nanti gue raih pada saatnya. Gue camkan ke diri gue sendiri bahwa ga ada yang lebih penting dari mimpi mimpi gue itu. Dan gue harus ngelakuin semua hal yang memang dibutuhkan buat ngedapetin mimpi-mimpi itu.

Pernah ngga lo se-kepengen-itu ngedapetin sesuatu sampe lo adrenalinnya meningkat terus. Energi yang dihasilkan hampir serupa sama energi positiv saat lo jatuh cinta, tapi yang ini beda. Mimpi mimpi yang selalu jadi penyemangat lo, pembangun. Dan saat lo mulai capek, yang harus lo lakuin cuma inget apa yang lo mau terus lo jadi tibatiba dibanjiri energi, bandang banjirnya. Keren kan.

Kadang emang ada saat saat dimana gue capek, males, lupa. Dan paling nyebelin adalah saat gue ragu. Saat gue takut. Saat gue bingung. Saat gue ga yakin kalo gue bisa dapetin mimpi-mimpi itu. Dan itu terjadi bukan cuma sekali-dua kali. Tau apa yang gue lakuin? Bercermin. Bilang sama diri gue sendiri, ingetin lagi apa mimpi-mimpinya, betapa berharganya, lalu nangis kejeerrrr banget sampe capek karena galau, di satu sisi ragu, di sisi lain sangat ingin.

Kadang gue ngerasa orang lain ga ada yang tau seberapa besar keinginan gue. Dan hal ini  ngebuat hal lain banyak yang jadi kurang penting di mata gue. Maaf. Gue bukan menghindari semua hal. Tapi dengan semua perasaan ini, dengan mimpi sebesar ini, gue takut, semangat, bingung, penuh ambisi, gue dengan pandangan yang beda, gue ga tau harus gimana bersikap jadinya. Maaf ya orang orang terdekat. Sayang ke kaliannya tetep sama. Tapi tolong ngerti, perasaan yang satu ini ga bisa dibendung.

Boleh minta doa? Boleh minta maaf? Kalo ada yang ga suka sama gue bilang, gampar, maki maki, hina, injek injek, gapapa deh, lakuin apapun sampe lo ngerasa ikhlas. Gue ga mau mimpi mimpi gue yang berharga ga kesampean cuma karena hubungan yang ngga baik sama orang lain. Gue minta maaf yang sedalam-dalamnya. Dan sekali lagi, oke, gue ikhlas kalo ada salahsatu diantara kalian yang merasa butuh bales dendam ke gue, yang penting ga ada hati-hati dendam yang merasa pernah gue sakiti.

Punya mimpi itu indah. Punya mimpi itu meyenangkan. Mewujudkannya ga gampang. Butuh perjuangan. Tapi inget, dapetinnya nanti akan jauh lebih menyenangkan. Jangan give up sama sesuatu yang beharga buat lo. #yolo

2 Agustus 2014

Yang-tak-dapat-tergambarkan

Pernah sempatkan lihat keatas pada waktu seperti ini?
Pernah mau tahu ada apa diatas sana?

Ada milyaran bintang bertaburan begitu saja

Tapi di langit Jakartaku,
Bintangnya hilang
Hampir selalu tak ada
Entah pergi kemana atau tertutup apa
Tapi bintangnya tak kelihatan

Kadang pandanganku tersamarkan
Apakah itu pesawat atau bintang?
Lampu lampu tinggi disana seperti bintang
Mereka serupa walau kalah indah
Apa itu yang buat bintangnya hilang?
Mereka malu
Mereka tak mau bersaing

Dan lalu aku ingat
Aku pernah lihat bintang bintang yang begitu cerah
Bintang bintang yang terangnya berkilau
Bintang bintang yang cahayanya menyilaukan
Bintang bintang yang tak tergantikan lampu kota manapun
Bintang bintang yang penuh sejauh mata memandang
Bintang bintang yang membuat siapapun terpana
Bintang bintang yang..
Bintang bintang yang indahnya tak bisa dituliskan, digambarkan, bahkan dibawa dalam foto
Bintang bintang yang harus dilihat siapapun sebelum ia mati

Keindahan yang tak tergambarkan
Keindahan yang tak bisa dibayangkan mereka yang tak pernagh merasakannya
Tak merasa rugikah mereka tak pernah melihat hal seindah itu?
Kadang aku membayangkan,
Apa mereka yang lahir, tinggal dan besar di kota besar pernah tahu itu ada?
Mereka yang hidup terlalu hingar di bawah lampu kota
Apa mereka tahu ada yang lebih indah dari lampu lampu yang mereka sebut indah?

Dan aku merindukannya
Merindukannya begitu dalam
Menginginkannya begitu kuat
Bintang bintang di-bukan-Jakarta
Langit indah di tempat tempat jauh dari kota
Tempat tempat tanpa lampu kota
Tanpa listrik, juga tanpa peradaban
Tapi penuh bintang
Dan itu cukup bagiku

Tuhan, aku rindu.
Tuhan, bawa aku kesana.