30 November 2014

Dari Halimun Hingga Hari Ini

30 Desember 2012, Halimun, lahirlah sebuah angkatan setelah 4 hari pendidikan dasar gunung hutan Sisgahana. Chandra Purnama. Bukan nama gank. Bukan nama orang.
 
Sudahlah pew, paragraph sesingkat itu bahkan membuat gue menangis. And that's why gue ga pernah nulis tentang kalian. Sumpah gue sayang ke kalian lebih daripada gue sayang Tias, dan gue sayang banget sama Tias. Kalian tau gue sayang kalian.
 
Ga lebih dari enam bulan lagi kita ketemu sesering ini. Ga bakalan hamper setiap hari ngedebatin atau ngetawain hal ga penting. Kita selalu keliatan ga penting, ga hebat, ga cantik, ga istimewa, tapi itu kata merka yang ga kenal kita. Kalian adalah wanita-wanita terhebat yang ada di hidup gue setelah nyokap gue.
 
Din, UI harga mati ya. Nanti kalo udah keterima di fakultas psikologi UI, ajak-ajak gue main lah ke kampus fakultasnya. Gue belom pernah masuk gedung-gedung yang ada di UI sana din. Gue penasaran gimana dalemnya, tempat orang-orang hebat kuliah, dan calon tempat kuliah lo Din. Din, apa kata Abo nanti ya kalo lo kuliah disana, Bang Jaki sama Bang Dika iri kali ya sama lo. Din, kalo nanti kuliah disana kalo pacaran sama anak UI juga jangan pacaran di danaunya ya, banyak nates. Anjaw yang pacarnya anak UI.
 
Sar, calon mahasiswa antropologi Unbraw 2015. Kurang keren darimana kedengerannya. Tapi gue selalu berpikir antropologi itu jurusannya orang keren. Kalo nanti udah kuliah di Malang, kuliah yang bener lah kurang-kurangin naik gunung. Jangan mentang-mentang deket Semeru, Arjuno, Welirang, kerjaannya daki mulu. Ajak-ajak CP lah, lo belom pernah kan menghangatkan gue semaleman di Semeru. Cepet lulus kuliah terus cepet ketemu nanti sama murid-murid lo yang kalo sekolah ga pake seragam tapi semangatnya lebih lebih dari anak sekolah paling bagus di Jakarta.
 
Del, teknologi pangan kan? UI atau Binus nih? Sama-sama bagus sih, tapi mendingan masuk UI Del, kan lo tau CP udah dari dulu niat numbalin lo buat masuk Mapala UI. Kita kan sering seret alat dan butuh banyak pinjeman del, kasian junior-junior Sisga nanti. CP tau dan percaya Del kalo lo akan keterima di UI lewat jalur undangan, jadi tolong percaya juga. Jangan lupa, gue udah booking lo buat jadi konsultan gizi gue. Jangan lupa cari caranya biar gue bisa makan banyak tapi ga gendut Del
 
Dan mereka adalah orang-orang terdekat gue yang berjalan bersama gue melewati masa-masa paling rawan kalo kata psikolog-psikolog, masa SMA. Gue yang ga punya temen kecuali tiga manusia extraordinary ini. Wanita-wanita yang hebat, kuat dan berpikiran maju. Terdengar klise, tapi boleh di test, coba kasih ujian paling susah buat CP. Kita udah pernah ikut-ikutan menolak keputusan dinas pendidikan mengenai pembekuan ekstrakulikuler pecinta alam, pernah dimarahin sama TNI dan pasang muka badak, bukan sedikit melakukan debat dengan wakil kepala sekolah bahkan kepala sekolahnya, mengorganisir sebuah acara, banyak deh ! Too much story to tell.
 
Gue bersyukur lahir tahun 1997 dan masuk ke SMAN 70 Jakarta pada tahun 2012, sehingga gue bisa menemui manusia-manusia hebat yang tidak terekspos media. Wanita-wanita yang bekerja penuh integritas dan tanggung jawab.
 
Terima kasih untuk tetap bersama dan tetap menjadi kuat hingga saat ini. Terima kasih untuk saling mengerti dan menerima. Terima kasih untuk saling menguatkan dan saling mengisi. Terima kasih untuk tidak saling meninggalkan dan menghakimi di saat-saat terburuk yang kita lalu. Terima kasin untuk menunjukkan masih ada hal baik di dunia ini pada masa-masa berat yang disebut cinta dan ketulusan. Terima kasih untuk cerita yang bahkan terdengar lebih baik daripada yang ada pada novel-novel best seller. Terima kasih untuk menjadi keluarga, bukan hanya sahabat pada masa SMA.
 
Sebagaimana yang kita semua tau, teman yang baik adalah yang menolong temannya saat temannya terjatuh. Dan kita saling menertawai saat temannya jatuh.

11 November 2014

Kamu - Dia - Kekasihnya

Kamu adalah pelanginya
Tapi bukan langitnya

Kamu adalah embunnya
Tapi bukan paginya

Bersediakah kamu di posisi itu?
Kamu kesayangannya, tapi bukan kekasihnya
Kamu dan dia mengetahui itu
Bahkan kekasihnya mengetahui itu
Kekasih yang benar benar ia cintai

Dia tak mencintaimu
Tak pernah benar mencintaimu

Iya, semua orang tahu
Dia memanjakanmu
Dia mengucapkan kata kata cinta
Dia membuatmu merasa istimewa
Tapi tetap kamu bukan kekasihnya

Dan kamu menerima keadaan itu

Hingga titik jenuhnya berlalu
Lalu dia kembali pada kekasihnya
Dan kamu hanya bisa menangis

5 November 2014

Finding the Right Man

Berawal dari 5-6 tahun yang lalu, disaat gue masuk SMP dan mulai ngebet pacaran. Sengebet itu. Alaynya ya. Soalnya kan emang dari SD gue deket sama yang namanya Wandita Dwi Desani dan super banyak yang suka sama dia. Pasti di sudut hati yang terdalam ada perasaan iri. Dan sejak dahulu kala gue suka sama Ka Andri Juniawan yang tidak pernah sedikitpun menghiraukan gue. Entah kenapa pula gue pernah suka sama dia. Dia sedikit norak, gendut, dan pendek.

1 Oktober, entah tahun berapa, sore itu gue hampir jatoh dari motor karena ngeliat Ka Andri di pinggir jalan. Dan lalu kenalan sama temennya yang bernama Gilang Bakti Raharja. Pacar gue yang pertama. Orang yang salah dan tidak tepat untuk dijadikan pacar pertama. Menyedihkan. Gue juga yakin kalo dia dulu ga pernah beneran suka sama gue, dia hanya memanfaatkan anak kelas 1 SMP yang ngebet pacaran. “Kalo ada kesempatan kenapa ngga dimanfaatin?” Gitu sepertinya kurang lebih.

Dia pervert. Dan gue adalah korbannya. Gue pikir keren punya pacar, ternyata engga. Alhamdulillah gue sudah bisa mengingat hal ini tanpa menangis walaupun masih merasa jijik dengan diri gue sendiri. The way he kissed me, the way he hold me. I’m nasty. Forgive me god. Tapi gue berani bersumpah bahwa gue menolak. Bahwa gue ga suka. Atau paling tidak gue berusaha untuk meolak. Dia terlalu kuat. Dan gue merasa jijik. I ever wish I could kill myself.

Dan lalu dia yang belum putus sama Ka Ikha Pratiwi Ramadhani saat jadian sama gue. Kok gue mau mauan aja ya. Yatuhan. Kenapa gue sealay itu. Dia yang possessive dan tidak mengizinkan gue buat jalan sama temen laki-laki gue. Dia yang marah disaat gue ga bales sms dia segera. Jaman itu belum nge-trend yang namanya line, bbm, whatsapp atau apapun yang lain. Possessive-nya itu loh. Yang salah siapapun, entah gue atau dia, dia terus yang kesel sama gue. Lah siapa yang cewek? Gue yang cewek dia yang ngambekan.

Dan banyak sekali yang gue ambil dari pacaran yang cukup lama dan sangat menyiksa itu. Pertama, yang namanya gaya pacaran beda usia pasti beda juga gaya pacarannya, apalagi kalo dari umur 12-17 gitu, pokoknya waktu gue kelas 1 SMP dia kelas 2 atau 3 SMA gitu gue lupa. Gue yang baru lulus SD dan belum tau apa-apa sudah dengan sialnya mendapatkan seorang pacar yang menjijikan cara pacarannya. Terima kasih Tuhan.

Dan lalu yang kedua adalah bahwa ga boleh balikan sama mantan karena saat putus pasti ada yang salah dan balikan tidak membuat kesalahan itu hilang. Balikan itu sama aja kaya sengaja  jatuh ke lubang yang sama dua kali. Bodoh. Berharap bisa memperbaiki hal yang tidak bisa diperbaiki. Gue lupa pacarannya berapa lama, abis itu putus dan balikan cuma karena Gilang ngeliat gue jalan sama Yudira, lalu dia cemburu padahal waktu itu statusnya dia cuma mantan. Bodohnya adalah gue mau juga diajak balikan sama dia cuma karena begini, gue ceritakan patah hati pertama gue.

Sekarang setelah gue beneran pernah merasakan apa itu sayang, gue menyadari bahwa waktu itu gue ga pernah sayang sama dia. Gue hanya meyakini dan membenarkan hal yang sebenernya Cuma dibuat-buat. Aneh. Dan gue baru mulai suka sama dia pada bulan-bulan ke 3, entah kenapa dan entah gimana. Dan lalu dia mutusin gue gitu deh pokoknya. Lalu gue patah hati atau apalah itu namanya, tapi gue juga yakin bahwa itu adalah patah hati semu karena ya gue aja gak pernah sayang sama dia, gimana gue bisa patah hati, gue hanya berpikir gue patah hati. Korban globalisasi yang terlalu cepat.

Gue bener-bener jadi korban sinetron. Nangis berbulan bulan. Galau. Pake acara beset-beset tangan pake kaca. Aduh gue inget banget pada satu masa yang melelahkan Muhammad Rizkiaputra bilang ke gue “ngapain lo kaya gitu. Lo bunuh aja diri lo sekalian” lalu gue disabet pake sarung. Dan setelah itu gue sadar. Dan lalu disaat seperti itu datang Yudira Hidayat yang menghibur gue. Disaat gue sudah move on, diajakin balikan, mau. Gue menerima Gilang kembali karena gue mikir mungkin gue akan menyesal kalo gue tidak menerima dia kembali. Keputusan yang salah.

Dan lalu yang bisa gue pelajari berikutnya adalah untuk jangan pernah lagi pacaran sama orang yang ngga gue sayang dan ngga sayang sama gue. Yang cuma main-main dengan niat yang ga baik, cuma mau manfaatin. Jangan pernah lagi sekalipun pacaran sama orang kaya gitu. Dan Alhamdulillah itu adalah pelajaran yang baik. Karena gue sudah mempelajarinya sejak gue berumur 13 tahun.

I learn the hard way, tapi apa bedanya, toh pada akhirnya gue belajar juga. Gue bersyukur Tuhan memberikan gue akal untuk berpikir.

Pengalaman pacaran kedua kombinasi seimbang antara manis dan pait. Pendekatan yang cukup lama sebelum akhirnya pacaran, lalu patah hati pada masa pacaran, diselingkuhin, beneran sayang, kombinasi dari berbagai perasaan deh.

Kenal sama dia, Yudira Hidayat sejak gue SD tapi baru deket sama dia itu waktu putus sama gilang. Awalnya karena temen gue, Fariza Putri Fami suka sama Ka Reggy Gumilang Hadiansyah, dan gue berusaha menjodohkan mereka, lalu malah gue yang jadi deket sama Yudi padahal gue dan dia adalah perantara. Lalu jauh lagi saat gue balikan sama Gilang. Karena seorang Aisyah Jasmine Yyogaswara gak pernah dan gak akan pernah selingkuh, jadi gue dan dia jauh. Dan deket lagi setelah gue putus lagi sama Gilang. Kakak-adean romantis selama setengah tahun lebih lalu jadian pada tanggal 23 Mei dan putus karena dia menyianyiakan gue.

Pacarannya dulu cukup berkesan karena gue beneran sayang sama dia waktu itu dan dia beda sama Gilang yang possessive, dia mengerti dan mengayomi gue. Beda umurnya 3 tahun. Ya, gue hampir ga pernah suka sama cowo yang seumuran karena berbagai alasan. Cukup menyenangkan sampe akhirnya setelah pacaran beberapa bulan dia mulai berubah, tapi itu adalah hal yang biasa aja dan tidak mengganggu gue.

Masalahnya adalah pada satu masa dimana dia mulai menghindari gue, mungkin setelah sekitar hampir satu tahun pacaran. Mungkin dia bosan. Mungkin dia lelah. Dan dia selingkuh. Dan saat itu yang ngasih tau ke gue adalah kakanya sendiri. Alhamduillah gue deket sama keluarganya. Sering main ke rumahnya, main sama adeknya, bantuin mamanya bikin kue, bahkan di nikahan kakanya aja gue yang jadi pager ayunya. Kembali fokus, dia selingkuh sama siapa ya namanya, pokoknya cewek itu tuh emang dari dulu suka sama Yudi dan sempet kesel setengah mati waktu gue pacaran.

Gue emang sayang beneran sama dia waktu itu, tapi gue bukan cewe yang bakalan diem aja kalo digituin. Dan malem itu gue ketemu sama dia. Entah siapa yang mutusin, lupa. Tapi malem itu sepertinya adalah patah hati pertama gue yang beneran. Gue ga terima lah diselingkuhin sama orang yang gue percaya ga bakalan nyakitin gue. Tapi setelah itu besoknya diralat sih putusnya. Seminggu setelah itu gue yang kaya ngejar-ngejar dia, gue mecoba untuk masih mempertahankan. Mecoba perhatian dan pengertian setiap saat, ga marah disaat dia ninggal-ninggalin gue seenaknya. Hingga satu minggu setelah putus perdana itu, gue memutuskan untuk move on dan melepaskan segala hal tentang perasaan dan hubungannya. Tiba-tiba pada hari ketujuh dia nangis nelfon gue bilang dia nyesel dan lain-lain. Hari itu gue antara bahagia dan bingung. Kenapa hari itu disaat gue memutuskan untuk berhenti.

Setelah itu dia yang jadi super baik dan gue yang jadi ga perduli. Mungkin kaya gitu sampe 3-4 bulan sebelum akhirnya gue bisa biasa aja sama pacar gue sendiri waktu itu. Ya gimana engga, diselingkuhin dan harus memaafkan. Tapi gue emang memaafkan dengan ikhlas pada waktu itu, hanya saja gue tidak lupa, dan jadi lebih waspada.

Dan lalu setelah hampir 2 tahun hubungannya. Dan dia mulai menyianyiakan gue. Rasanya kaya dia udah ga sayang lagi sama gue. Dia sudah tidak mmepertahankan hubungannya lagi. Kalo ada masalah dia udah ga berusaha menyelesaikannya, mulai ilang ilangan lagi. Dan gue bukan ga pernah ngomong, gue udah bicara dan dia tetap begitu. Gue memutuskan untuk take a break selama satu bulan, karena gue merasa perlu mengevaluasi dan mempertimbangkan apakah hubungannya masih bisa dilanjutkan. Buat apa mempertahankan hubungan kalo bukan dua-duanya yang mau, hubungan itu antara dua orang, kalo cuma sendiri yang usaha ga bakalan bisa jalan

Berdasarkan pada pemikiran itu, dengan berat hati gue menyudahi hubungannya. Bukan karena gue udah ngga sayang, tapi gue beneran sampe udah kebal saking seringnya merasakan patah hati ringan. Ibarat bangunan sekuat apapun kalo berkali-kali kena gempa ringan pun pada suatu saat bakalan rubuh. Kesannya kaya tiba-tiba, padahal engga, sebenernya bangunan yang keliatan kokoh itu udah ada banyak banget retak kecil yang ga dibenerin sama pemiliknya. Gue masih sayang kok sama dia waktu putus, tapi gue ngerasa hubungannya udah ga pantes di pertahanin, dan gue ikhlas.

Banyak juga yang gue pelajari tentang keberanian untuk menyayangi dan disayangi. Tentang patah hati yang sebenernya, bahwa patah hati itu gak harus selalu nangis setiap hari, ada juga nangis yang ngga pake air mata. Tentang kepercayaan yang dihancurkan. Tentang mempertahankan tanpa dipertahankan. Jadi, sesayang apapun, sepercaya apapun, seserius apapun lo sama seseorang, bukan jaminan lo akan mendapatkan hal yang sama dari orang itu.

Setelah itu gue menjalani bulan-bulan jomblo gue dengan biasa aja. Karena gue sudah ikhlas jadi gue ngga galau galau, nangis nangis atau apapun. Gue cuma nangis sekali di malem saat gue putus, cuma sekali dan sebentar, di pelukan nyokap gue. Gue sibuk sekolah dan ngurusin eskul. Sampe seseorang dari masa kecil gue dateng lagi, Habibie John Bevis, temen SD gue.

Entah mau menceritakan hubungan yang ini kaya gimana. Dia baik. Sangat baik. Karena Yudi ga romantis, jadi gue sempat berpikir gue menginginkan cowok romantic. Dan Habibie adalah cowo yang perfect secara mainstream. Bule, loyal, manjain lo, lo minta apa aja dikasih, lo mau kemana aja dianterin, gitu deh. Untungnya gue sih bukan tipe cewe yang matre. Dan Habibie ternyata bukan cowo yang cocok sama gue. Gue ngga bisa pacaran sama cowo yang ga bisa pegang kendali atas gue, maksudnya gue kan sering egois, manja, ngototan, bossy, susah diatur, dan lain-lain. Dan gue ngga bisa sama cowo yang nurutin mau gue terus. Bosen juga lah. Dan akhirnya hubungannya disudahi segera. Gue bahkan ga inget jadian kapan, berapa lama, putus kapan, entahlah.

Pelajarannya, kadang lo ga bener-bener menginginkan apa yang lo pikir lo inginkan. Mungkin lo hanya terpengaruh lingkungan lo, atau hal lain. Dan tak selalu yang berkilau itu indah. Entah Habibie kurang apa selain kurang macho. Dia romantic dan baik. Tapi tetep aja gue lebih memilih cowo yang biasa aja kayaknya. Yang emang cocok. Hati itu ngga bisa dipaksain. Kalo emang ga sayang ya mau gimana kan.

3-4 bulan setelah putus gue sudah mulai bosan ga punya pacar. Tapi gue juga bukan tipe manusia yang emang nyari-nyari pacar, yang suka kenalan dan tiba-tiba deket sama orang ga jelas atau nanggepin kalo orang lain modus. Anehnya adalah, sebosen apapun gue ngga punya pacar, tetep aja kalo ada orang yang modusin gue dan gue ngga suka pasti gue hindarin. Gue ga pernah sedikitpun mau memanfaatkan orang lain, karena perasaan bukan hal yang gampang

Dan di bulan bulan seperti itu gue merasakan hal yang sangat aneh, baru dan gila. Love on the first sight. Belom pernah kaya gitu. Karena sejak pacaran yang pertama, gue pernah menjadi korban karena gue pacaran sama orang yang baru gue kenal. Tapi gue suka ambil resiko, walopun gue sepenuhnya sadar bahwa perbedaan antara berani dan nekat itu tipis, untungnya gue adalah seorang fighter dan survivor. Jadi, setelah gue mengalami jatuh gue bangkit. Dan setelah gue pernah melakukan kesalahan, dengan perbedaan tipis antara berani dan bodoh, gue memutuskan untuk melanjutkan kegilaan terbesar gue yaitu melanjutkan hubungan sama orang yang baru banget gue kenal.

Gue yang suka sama cowo ini sejak awal, jadi iya, gue yang mendekati dia. Tapi gue bukan kaya cewek-cewek norak  yang kalo ngedeketin cowo tuh lebay. Tapi gue beneran modus. Karena gue beneran sayang sama dianya. Dari awal gue tau kalo gue harus melakukan apapun, kalo gue harus memiliki dia. Karena dia istimewa. Gue tau dia istimewa, tapi gue ga tau dia akan jadi seistimewa ini ternyata buat gue.

Tias Arifiandi Nugraha, cowo yang ngebuat gue berani percaya sepenuhnya sama perasaan gue. Belom pernah gue sayang sama cowo sedalem ini. Berani banget  gue pacaran sama dia secepet ini. Gue pacaran sama dia persis satu bulan setelah gue kenal dia, dan di hari ulang tahun gue yang ke 17, 15 april 2014. Dan sampe saat ini Alhamdulillah udah mau 7 bulan dan gue masih sayang banget sama dia. Engga bosen. Engga berkurang sayangnya. I fall for him everyday.

Entah apa yang membuat gue ngerasa cocok dan sayang terus sama dia walopun kerjaan gue ngambekan terus, dianya juga sibuk terus, gue juga lagi sibuk sama eskul gue, terus kerjaan dia tuh ngeledekin gue terus, dianya melankolis total, kalo jalan ga pernah tau tujuan, sering berantem berantem ringan, dia ga peka kalo gue lagi kesel, kalo gue lagi kesel bukannya disayang sayang malah dibercandain, suka jayus dua-duanya kalo bercanda, suka melakukan kekerasan yang tidak disengaja, tapi hanya dia juga yang ngebuat gue ngga tahan ngambek lamalama, yang bisa bikin gue berhenti ngambek gitu aja saking sayangnya, yang bisa aja ngebuat gue ketawa-ketawa terus, yang ngga bisa ngga maafin dia, yang super ngeselin tapi super ngangenin, yang ada disaat gue membutuhkan, yang meluangkan sebagian besar waktu luangnya dengan gue, yang mau melakukan pengorbanan gila sejak awal, yang beneran sayang sama gue, yang selalu memaafkan, yang bikin gue ngga bisa lepas dari dia deh pokoknya.

Dan gue masih jatuh cinta sama dia setiap hari, mungkin karena gue yang belajar menjadi manusia yang bahagia juga kali ya, jadi dengan sengaja tidak mengingat hal-hal yang ga baik mengenai hubungannya, misalnya kaya marahan, ngambekan, keselkeselan gitu-gitu. Jadi yang gue inget hanyalah betapa bahagianya disaat gue sama dia. Selalu. Hampir setiap hari. Tuhan, terima kasih.

Gue sangat bersyukur ketemu pria sehebat dia disaat gue sedang seperti ini. Sebenernya gue berharap ketemu sama dia lebih cepat sehingga gue bisa telah mencintai dia lebih lama, dan karena gue ngga suka memikirkan dia pernah mencintai orang lain sebelum gue dan gue bukan orang yang menemani dia dari dia bukan siapa siapa sampe hari ini dia sudah menjadi seseorang yang bisa membuat orang tuanya bangga, gue menyesal. Tapi gue juga bersyukur, karena mungkin kalo gue ketemu dia di umur guee yang belom 17 tahun, gue belum cukup matang untuk bisa menjaga dan menghargai dia.

Entah bagaimana kelanjutan hubungan yang ini nanti. Apakah akan menjadi semanis ini hingga seterusnya untuk waktu yang sangat lama, atau sebaliknya, semua hal semanis dan seberkesan ini akan hilang gitu aja. Tapi yang kaya gitu ngga usah di pikirin lah ya. Jalanin aja semaksimal mungkin.

Dan gue mensyukuri seluruh perjalanan ini, dengan berbagai macam cinta dan pria yang pernah ada di hari dan hati gue, hingga saat ini, di saat yang gue percaya ini adalah saat yang tepat, tuhan mempertemukan gue dengan seorang pria yang sangat hebat dan berarti lebih dari yang pernah gue bayangkan sebelumnya. Semua kesalahan dan kegagalan dalam hubungan gue di masa lalu adalah bagian yang membuat gue bisa jadi cukup pantas untuk dia saat ini. Dan gue tidak menyesali apapun karena semua yang pernah terjadi yang membawa gue bisa sama-sama sama dia yang tepat saat ini. Dan gue berharap cerita gue sesederhana itu, dengan tidak lebih banyak cowok di hidup gue karena gue merasa yang gue miliki sekarang lebih dari cukup. Seseorang yang gue cintai tanpa alasan dan maksud tertentu. Yang ga pernah berhenti gue cintai sejak hari pertama gue mulai sayang sama dia. Terima kasih tuhan, he is the one.